January 31, 2012

MATA HARI (Kisah AGEN RAHASIA Wanita Legendaris)

Mata Hari terlahir dengan nama Margaretha Geertruida pada 7 Agustus 1876 di Leeuwarden Belanda. Sebagai anak kedua dari Adam Zelle dan istrinya Antje van der Meulen (keturunan Indonesia-Belanda) dan putri semata wayang dari empat anaknya Zelle yang semuanya laki-laki. Ayahnya seeorang pedagang yang berhasil. Margaretha Geertruida (Mata-Hari), semasa remaja hidupnya biasa dilayani oleh para pembantu dan hidup penuh kecukupan dan kemewahan. Biasa dipanggil dengan nama kecilnya, M'greet. Ayahnya yang biasa memanjakan dirinya, biasa memanggilnya sebagai "sebatang anggrek di antara mangkuk-mangkuk."


Yang pasti, ia menikmati masa kanak-kanaknya. Namun ketika ia berusia 13 tahun, bisnis ayahnya bangkrut dan membuatnya menganggur di rumah. Ditambah lagi, dua tahun kemudian, ibunya meninggal. Kemudian ia dititipkan untuk tinggal dengan kerabat keluarganya, dan ia mulai mengikuti pendidikan guru. Namun gagal, karena kecerobohannya terlibat affair dengan kepala sekolah. Kemudian, pada usia 18 tahun, ia mencoba merubah nasibnya dengan mengirim surat atas sebuah iklan yang di pasang di sebuah surat kabar, seorang tentara yang sedang mencari jodoh. Maka, ia bertemu seorang pria berusia 38-tahun, Kapten Rudolph MacLeod, seorang Belanda keturunan Skotlan, dan pada 11 Juli 1895, mereka menikah.

Hidupnya akhirnya berubah juga, mereka memperoleh dua orang anak, seorang bayi laki-laki yang lahir pada 30 January 1897di Netherland diberi nama Norman. Sebungkah kegembiraan ini memberikan kebahagiaan bagi mereka berdua dan apalagi MacLeods kini selalu mendampingi, meskipun agak mengalami krisis keuangan karena pengeluaran untuk biaya pernikahan, dan bulan madu, serta biaya melahirkan pula. Seperti diungkapkannya di kemudian hari, di saat perceraiannya, Margaretha menjerit dengan pedih dan menuding bahwa saat Margaretha tengah melahirkan, John malah berhubungan sex dengan perempuan pribumi di ruangan lain rumah mereka itu. Lima bulan setelah kelahiran bayinya, akhirnya mereka memutuskan pindah ke Jawa Timur. Margaretha agak terhibur dengan perjalanan ini. Ia menginjak usia 20 tahun sementara John memasuki usia 41 tahun. Setelah pindah ke Jawa Timur, lahirlah putrinya Jeanne-Louise pada 2 May 1898 di pulau Jawa itu. Jeanne memiliki nama kecil ‘Non’, kependekan dari ‘Nona’, panggilan bagi wanita remaja. Namun, segala sesuatunya ternyata tak banyak berbeda bagi Margaretha. Hari-hari dilalui dengan banyak percekcokan dan pertikaian membuat situasi yang tak menyenangkan tetap berlanjut.


Kini secara perlahan hidup mulai berganti bagi Margaretha. Kini ia juga mulai jadi ibu, selain menjalankan peran sebagai seorang istri. Rudolph perlahan-lahan menyadari bagaimana resikonya menikahi seorang istri yang kelewat cantik serta masih muda belia. Rudolph seringkali mengalami banyak kejadian-kejadian kecil di jalan ketika para pria menggoda Margaretha, dan Rudolph, tak punya pilihan, mesti membela harga diri istrinya. Namun ketika keadaan berjalan di luar kendali iapun mulai menuduh Margaretha berselingkuh dengan lelaki lain. Ia sendiri terkadang masih bertingkah seperti Casanova, dan tak berubah banyak meski telah menikah. Kebiasaan lamanya masih tetap menempel seperti lem. Banyak teman-temannya menyaksikan sendiri bahwa ia masih sering bersikap terlalu kasar terhadap istrinya, bahkan terkadang dilakukannya di depan publik.

Tak lama, John ditugaskan di kota lain, di Medan. Margaretha diminta untuk menyusul kemudian, sementara ia menyiapkan tempat untuk tinggal di Medan itu. Margaretha, terpaksa menempati rumah Van Rheedes. Van Rheedes bekerja sebagai chief accountant untuk Pasukan Belanda wilayah Indonesia Timur. Inilah masa-masa dimana Margaretha mulai bisa melakukan apa yang ia sukai. Ia lalu mencoba mengenakan ‘Sarung’ dan ‘Kebaya’, di Eropa semacam rok dan blus. Ia juga mencoba pakaian lain, seperti baju strip, serta korset. Ia menyukai fashion. Perhatiannya yang sungguh-sungguh membawanya ikut suatu pergelaran sendratari Jawa, dan itu terus berlanjut hari demi hari. Perlahan-lahan ia juga tertarik mendalami sejarah, bahasa dan budaya Indonesia, pelan-pelan sambil sembunyi-sembunyi ia belajar bahasa Melayu, meskipun ia tak bisa bicara secara lancar tapi sehari-harinya ia bisa mempraktikkannya dalam berbagai kesempatan berinteraksi.

Waktu terus berlalu dan pengetahuannya juga bertambah. Seringkali di pesta-pesta yang diselenggarakan, ketika para tentara dan istrinya disuguhi pagelaran tarian lokal, Margaretha ikut pula menari sambil menghibur diri, ia pun tak risih untuk menyenangkan mata mereka yang memandangnya. Kepada sahabatnya, pada 1897, Margaretha menulis bahwa ia sempat diminta menari oleh para staf pegawai pemerintah Belanda di Jawa Timur, ia menngatakan bahwa ia memakai nama ‘Mata Hari’, yang diambil dari bahasa Melayu. Yang menarik adalah, bahwa Margaretha juga tertarik mendalami mitologi Hindu dan selalu berusaha menemukan orang yang bisa menterjemahkan berbagai kisah sendratari baginya. Rasa ketertarikannya ini membuat ia semakin melekatkan dirinya pada kepercayaan Hindu. Pada kesempatan ketika ia sedang sendiri di kamarnya, ia mempraktikkan tarian yang mampu menghipnotis, dan seringkali pula diiringi oleh suara musik orkestra yang berasal dari imaginasinya. Kini, seluruh jiwa raganya terpaut kepada tarian, dan mitologi Hindu, Margaretha seringkali merasa bahwa ia seperti seorang ‘Apsara’, atau seorang wanita Penari dari Kayangan, yang akan memperoleh kebahagiaannya hanya ketika ia menari bagi para Dewa.

Sementara John, repot dengan hidupnya di Medan, ia pun tak mampu mengirimkan uang bagi istri dan anaknya. Margaretha tak mendapatkan bantuan finansial dari suaminya. Ia sangat merasa malu. Di satu sisi, John biasa menulis kepada sahabatnya, secara panjang lebar, komplain bahwa Margaretha tak memiliki sifat keibuan. Ia menulis secara detail bahwa ia seharusnya bisa bersih-bersih sendiri dan merapikan rumah, ia bahkan menceritakan kepada istri komandan Garrison, untung saja ia bisa memahami bagaimana repotnya jadi ibu dengan dua anak.

Baru saja sebulan Margaretha tinggal di Medan, datang bencana, pada 25 June 1899, Norman anaknya yang berusia dua setengah tahun meninggal diracun makanannya, tapi anak perempuannya selamat karena kebetulan makannya tak banyak. Hasil investigasi membuktikan bahwa racun ditemukan pada saus yang terdapat dari nasi yang disantapnya. Tersebar isu, penyebabnya adalah, karena John memukuli seorang tentara pribumi, kebetulan tentara ini memiliki hubungan cinta dengan wanita pengasuh anak-anaknya. Si pengasuh, menjadi alat balas dendam kekasihnya yang dipukuli itu, dengan meracuni anak-anaknya. Dan si pengasuh itu menjadi tertuduh utama pembunuhan tersebut. Namun ia tak pernah ditahan atas tuduhan itu karena tak pernah dapat dibuktikan. Untuk itu, John menyalahkan Margaretha karena kurang memperhatikan anak-anaknya sehingga menyebabkan kejadian itu. John kembali dipindah-tugaskan ke pulau Jawa ke sebuah desa, Banyu-Biru. Akhirnya, setelah merenungkan berbagai peristiwa, disamping merasa kehidupan mereka sudah tidak indah lagi, keduanya memutuskan bercerai secara resmi.


Mendalami budaya dan tarian Jawa-Hindu

Hidup terus berlanjut, Margaretha tak dapat melupakan masa-masa di Holland. Dia berulangkali minta kembali ke Holland, dan akhirnya setelah perjuangan yang panjang keinginannya dikabulkan dan pada Maret 1902, mereka berlayar menuju ke Amsterdam. Ia berpikir paling tidak mereka tidak akan terlalu terpisah bila sama-sama berada di kampung halamannya. John dan Margaretha letih dengan hidup mereka di tanah Jawa, dan banyak menyimpan kenangan sedih di sana. Meski telah sampai di Holland, pasangan itu tetap saja sering cekcok. Hingga suatu hari, ketika Margaretha pulang ke rumah, ia terguncang menyaksikan apartemennya kosong, dan John telah minggat bersama puteri mereka yang berusia empat tahun. Margaretha, berusaha mencari mereka, namun sia-sia, perpisahan telah menimpanya dengan begitu brutal. Bagaimanapun, ia memperjuangkan puterinya dan berusaha memenuhi kebutuhannya meskipun tak berhasil.

John dengan kasarnya memasang iklan di surat kabar Amsterdam: “Saya minta anda semua, siapa saja tidak membantu atau memberi apapun kepada istriku yang aneh Margaretha MacLeod-Zelle.” Dia juga menyebarkan perkataan bahwa Margaretha lah yang meninggalkan dirinya. Margaretha mencoba mencari pekerjaan tapi tak berhasil. Tak mampu untuk memberi makan atau pakaian untuk Non, dengan lunglai Margaretha mengembalikan puterinya kepada John.

Margaretha kini benar-benar sendiri. Ia tersingkir dan tak beruang, tak memiliki skill apapun untuk bekerja, maka tak ada lagi masa depan bagi wanita 27-tahun ini. Ia teringat, di Jawa ia sempat membaca koran Belanda yang menawarkan kehidupan yang mudah di Paris, pusat budaya dan seni. Banyak penulis yang menulis berbagai keberhasilan tentang seni dan talenta, dan mereka semua amat dihargai di sana. Masih melekat dalam ingatannya pada sebuah foto sebuah tempat yang tak pernah ia tahu dan belum pernah ia lihat sebelumnya, tapi ia yakin bahwa mungkin ia memiliki masa depan di sana, akhirnya ia memutuskan pergi ke Paris dan mencoba peruntungannya di sana.

Ia pindah ke Paris, di mana ia bekerja sebagai pemain sirkus, dengan nama 'Lady MacLeod'. Berjuang memperoleh kehidupan, ia juga menjadi model pelukis potret Antonio de La Gandara.

Sejak 1905, ia terkenal sebagai penari eksotik bergaya Oriental. Sejak itulah ia menggunakan nama panggung Mata Hari, yang diambil dari bahasa Indonesia. Ia berperan, sebagai puteri dari tanah Jawa anak pendeta kelahiran India, mengaku hidupnya telah ditakdirkan bagi seni tari suci India sejak kecil. Meskipun alasan-alasan itu hanya karangannya, namun penampilannya memberikan kesuksesan baginya karena tariannya yang erotik itu dihargai bahkan memberikan status terhormat, mendobrak aliran yang ada, dan menjadi sebuah gaya hiburan yang membuat Paris dikenal ke seluruh dunia.

Mata Hari menjadi sosok yang berhasil dan memiliki banyak hubungan dengan tokoh-tokoh militer, politisi dan berbagai tokoh berpengaruh dari berbagai negara, termasuk Perancis dan Jerman.



Mata Hari, sang Agen Spionase Ganda

Selama Perang Dunia I, Belanda berada pada posisi netral dan, sebagai orang Belanda, Margaretha Zelle dapat melintasi batas-batas kebangsaan. Untuk menghindari medan perang, ia harus melakukan perjalanan antara Perancis dan Belanda melalui Spanyol dan Inggris, dan tanpa terhindari gerakannya tentu akan mengundang perhatian dan curiga. Pada suatu kesempatan, saat diinterview oleh agen intelijen Inggris, ia mendaftar menjadi agen intelijen Perancis, meskipun kemudian tak ia tuliskan dalam biografinya.

Pada January 1917, atase militer Jerman di Madrid mengirimkan pesan radio ke Berlin menjelaskan tentang agen mata-mata Jerman yang dapat membantu, yang memiliki kode-panggilan H-21. Agen intelijen Perancis menyadap pesan itu dan, dari informasi yang mereka sadap itu, dikenali bahwa H-21 adalah Mata Hari. Sudah tentu, bahwa pesan yang dikirim oleh intelijen Jerman itu telah di tangkap oleh pihak Perancis, sebagian sejarawan menyebutkan bahwa dari pesan itu terungkap bahwa, pada saat Mata Hari bekerja untuk Perancis, rekan Perancis yang membayarnya mengidentifikasinya sebagai seorang agen ganda. Pada 13 February 1917, ia ditangkap di kamar hotelnya di Paris. Pada saat ia ditahan, Perancis tengah mengalami banyak kekalahan dalam peperangan. Ribuan tentaranya banyak yang mati, dan membutuhkan sesuatu untuk menjadi kambing hitam. Maka wanita Belanda yang tengah naik daun ini cocok untuk menjadi alasan. Ketenaran Mata Hari menjadi taruhan, ia dituduh sebagai mata-mata yang menyebabkan puluhan ribu tentara tewas. Meskipun merupakan spekulasi dan tak ada bukti nyata, tak terelakan ia dianggap bersalah dan dieksekusi di hadapan regu tembak pada 15 Oktober 1917, pada usia 41.

Dengan alasan demi keamanan negara, bukti-bukti dirahasiakan dan hingga kini, berkas-berkas tuntutannya tetap tertutup. Segala apa saja yang menjadi aktivitas Mata Hari di masa perang itu—yang diungkap melalui berkas-berkas pembuktian arsip lain, begitu rancu—para sejarawan tak menemukan apapun untuk membuktikan--apakah Mata Hari memberikan suatu informasi yang berarti kepada pihak lain, atau tidak. Sepertinya ia memang menerima pembayaran dari kedua pihak meski tak berhasil memuaskan para pembayarnya. Tentu saja, tuduhan yang ditimpakan saat perang tidak berpihak kepada Perancis, maka paling mudah bagi para oknum pemerintah Perancis adalah menyalahkan kegagalan perangnya kepada mata-mata yang berkhianat. Tuduhan bagi Mata Hari tersebut kemudian ternyata menjadi contoh bergengsi pula bagi publik perihal kemampuan counter-espionage Perancis.

Maka tersebarlah rumor bahwa seorang mantan penari erotis dieksekusi sebagai mata-mata. Dikisahkan bahwa ia sempat meniupkan ciuman jauh (blowing kiss) kepada para eksekutornya, seolah ia tujukan kepada pengacaranya—yang juga jadi pacarnya—konon ikut menyaksikan acara eksekusi tersebut. Rumor lain menyebutkan bahwa ia, sempat mengacaukan konsentrasi para eksekutornya, dengan membuka mantelnya dan memamerkan tubuh telanjangnya.

Rumor ke tiga menyebutkan bahwa Mata Hari menghadapi eksekusi dengan cara tidak sebagaimana layaknya, ia menolak ditutup matanya– ini dimaksudkan agar pasukan penembaknya ngawur saat melakukan eksekusi. Singkatnya, semua cerita itu diduga mengikuti plot cerita opera Puccini jaman itu, Tosca.

Begitulah akhir sebuah drama. Pada 15 Oktober 1917, Mata Hari menolak diikat dan ditutup matanya, malah memberikan tiupan cium (blew a kiss) kepada regu penembak sesaat sebelum mereka menarik pelatuk. Rumor menyebutkan salah seorang penembak terpengaruh dan mengakibatkan sebuah tembakan ngawur! Apakah ia seorang mata-mata Jerman atau Peranciskah? Demikian legenda seorang mata-mata wanita yang amat terkenal yang pernah ada.


Sumber: Notes Facebook E-one Mazziwan (notes) Wednesday, October 7, 2009 at 6:29pm

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...