April 08, 2011

SEMAR KUNING (The Tales of SemaR)

Beberapa kisah wayang tentang punokawan, terutama SEMAR tidak akan kita dapatkan dari Kisah pewayangan India seperti epic original Mahabharata atau Ramayana. Varian tambahan berupa kehadiran Punokawan (Semar cs) hanya terdapat dalam Lelakon wayang Jawa. Konon dulu yang mengembangkan adalah Kanjeng Sunan Kalijaga, sebagai bentuk transformasi halus budaya dan adat istiadat. Beberapa varian kisah pewayangan ini Jogjaicon dapatkan dulu dari Almarhum Simbah Kakung di Jogja atau Simbah Cilik (adiknya Simbah) yang berprofesi sebagai EO sebuah grup ketoprak dan wayang orang di daerah Buluspesantren, Kebumen Jawa tengah. Kali ini Jogjaicon akan menceritakan kembali secara singkat salah satu kisah pewayangan jawa tentang SEMAR. Semoga berkenan.



Alkisah Raja Dwarawati, Prabu Kresna yang konon merupakan titisan Btara Wisnhu, ingin menikahkan Siti Sundari anaknya dengan Abimanyu, anak Arjuna. Karena Prabu Kresna tahu bahwa Abimanyu mendapatkan wahyu raja yang akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa. Namun rencana tersebut ditentang Semar, sehubungan pada saat itu Arjuna sedang bepergian dan supaya menunggu terlebih dahulu untuk keputusan lebih lanjut..

Nasehat Semar ini ditolak Kresna bahkan Semar dituduh menentang kebijaksanaan raja, dan atas perintah Kresna, Abimanyu berani meludahi kuncung (rambut kepala yang berada di depan)..

Hal ini manimbulkan kekecewaan dan keprihatinan Semar, sehingga ia pergi dari istana.Perlakuan sewenang-wenang raja Dwarawati terhadap Semar ini menimbulkan kemarahan para dewa. Para dewa kemudian menimpakan bencana di Kerajaan Dwarawati baik kerusuhan, kebakaran, bahkan banjir yang disertai angin besar menimpa di istana, rakyat menjadi kacau balau, sehingga raja Dwarawati sampai meng-ungsikan diri dan mencari perlindungan ke Kerajaan Amarta.

Semua bencana yang terjadi di Kerajaan Dwarawati ini bisa redam setelah Prabu Kresna yang disertai para Pandawa menemui Semar dan meminta pengampunan. Semar yang saat itu sedang bersemedi dirasuki Sang Hyang Wenang sehingga tubuhnya memancarkan cahaya kekuning-kuningan menerima kedatangan para Pandawa dan Kresna. Dengan kearifan Semar mengampuni kesalahan Prabu Kresna, tetapi mengatakan bahwa pernikahan Abimanyu dengan Siti Sundari tidak akan membuahkan keturunan (anak), dan kembalilah kedamaian dan ketentraman di dunia.


Postingan didedikasikan untuk:
Almarhum Mbahlik TONO, semoga ALLAH Swt menerima segala amal ibadahnya.


Sumber gambar: Listantoedy Blog

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...