August 28, 2010

KEPERCAYAAN, PERSAHABATAN DAN HARGA DIRI

(ilustrasi: Letnan Dunbar dan "Double socks")

Menonton filem "Dances With Wolves" membawa kesan yang mendalam pada diriku secara pribadi. Pertama nonton filem ini (dan berulang-ulang kemudian) waktu jaman SMU di sebuah bioskop 21 jalan solo yang cukup bergengsi di kota Yogyakarta kala itu. Banyak bahkan padat pembelajaran dan filosofi tentang hidup serta kehidupan yang terkandung dalam filem ini. Selain tentu saja kualitas filem secara umum yang memang berbobot. Entah berapa kategori Oscar Award yang di sabet oleh filem ini.

Filem buatan tahun 1990 dan diproduseri plus dibintangi oleh Kevin Costner ini berseting Amerika serikat yang dalam kondisi depresi pasca perang saudara (civil war tahun 1880-an). Demoralisasi tidak hanya dialami oleh para tentara pemberontak (konfederasi) yang kalah perang, tetapi juga dialami oleh tentara pemerintah (federal). Mungkin karena mengalami perang dashyat antara orang Amerika sendiri (Sejarah mencatat bahwa Perang saudara ato Civil War Amerika adalah perang dengan korban orang Amerika terbanyak sepanjang waktu).

Tersebutlah seorang opsir dari kesatuan Kavaleri ke-7 yang terkenal, Letnan Dunbar (diperankan dengan apik oleh Kevin Costner). Letnan Dunbar yang mengalami permasalahan di kesatuannya, "dimutasikan" kesebuah pos perbatasan di daerah barat yang kala itu terkenal liar (wild west). Moril rendah dari para opsir atasan di jajaran tentara federal A.S. dilihat langsung oleh Dunbar, pada saat melapor akan masuk pos tersebut. Kolonel nya bunuh diri dengan menembakan pistol kekepala, karena tidak sanggup mempertanggungjawabkan keadaan pos yang akan ditempati Dunbar. Kenapa demikian???

Rupanya pos yang dimaksud berada jauh dari "peradaban" manusia modern, dan sudah ditinggal kabur oleh satu peleton pasukannya. Walhasil begitu Dunbar sampai di pos tersebut dia seorang diri. Dunbar pun membereskan pos terpencil yang berantakan tak terawat tersebut, yang mengejutkan ia menemukan puluhan pucuk senapan didalam tanah. Rupanya sebelum desersi, para prajurit pos tersebut lebih dulu mengubur senjata dan seragam mereka.

Hari-hari sunyi dan sebatang kara dijalani oleh Letnan Dunbar, sebagai komandan pos tanpa pasukan. Mengisi hari-hari sunyinya Dunbar "bersahabat" dengan seekor serigala, yang sering datang ke pos nya mencari sisa makanan. Dunbar tanpa sadar sering mengajak serigala tersebut ngobrol atau curhat. Ya karena hanya serigala itu satu-satunya "kawan" bagi Dunbar. Serigala, yang kemudian diberi nama double socks (karena dua kaki depannya seperti memakai kaos kaki) itupun kini tinggal di sekitar pos dunbar.

Perilaku Dunbar dan Double socks rupanya mendapat perhatian dan mengundang simpati suku Indian yang berada di wilayah pos nya. Orang Indian yang selama ini menganggap orang kulit putih kejam, jahat dan culas, berubah persepsi melihat Dunbar. Menurut Indian, orang yang bisa bergaul begitu akrab dengan binatang buas berarti memiliki tingkat kebajikan serta rasa cinta kasih yang tinggi.


Singkat cerita, Letnan Dunbar pun bersahabat dengan suku Indian tersebut. Bahkan pada saat Suku Indian tersebut berperang dengan suku yang lain, dunbar membantu mereka dengan memberikan senapan-senapan yang dikubur di posnya. Sehingga Dunbar diangkat menjadi warga kehormatan suku dan diberi nama gelar "Dance with Wolves (Menari bersama Serigala). Orang Indian memberi nama kehormatan berdasarkan kelebihan seseorang. Dunbar pertama kali terlihat oleh para Indian memang sedang bermain kejar-kejaran dengan Double Socks di halaman Pos. Bukan cuma itu, Dunbar pun menikah dengan seorang wanita Indian (sebetulnya kulit putih yang diadopsi sejak kecil) bernama 'double paw'. Sejak saat itu hari-hari Dunbar tidaklah sepi lagi, sekaligus mengubah persepsi dunbar sebagai kulitputih tentang orang Indian. Indian yang selama ini dianggap barbar, kejam dan tidak berbudaya ternyata demikian menghargai nilai-nilai kehidupan seperti persahabatan, kebersamaan, tradisi dan kepercayaan.



Namun 'masa-masa indah' berakhir. Pemerintah Federal AS menyatakan akan mengeksplorasi daerah Barat, termasuk memerangi suku Indian. Pasukan Amerika yang keropos pasca perang saudarapun sudah di moderinasi dan restrukturisasi. Maka datanglah ribuan pasukan A.S. lengkap dengan persenjataannya ke daerah barat, tak terkecuali pos dunbar bertugas.

Dunbar yang selama ini tinggal di pemukiman Indian kembali keposnya untuk melapor, namun dia dianggap Disertir (pelarian militer) dan pengkhianat karena telah membagikan senjata pada Indian. Dunbar kemudian ditangkap dan di tahan.

Yang menyakitkan hati Dunbar, beberapa tentara yang sedang mabuk menjadikan 'Double Socks sebagai sasaran tembak. 'Double Socks pun tewas secara tragis. Dunbar hanya bisa meratap dalam batin melihat, 'sahabat baik'nya ini meregang nyawa dengan tubuh hancur dihantam peluru. Sebelumnya Dunbar sudah berusaha mengusir Double Socks agar pergi dari pos, tapi kesetiaan double socks membuatnya tidak mengindahkan usiran Dunbar. Begitu mudah menghancurkan dan melenyapkan suatu hal yang dibangun susah payah dengan beberapa butir peluru.

Dunbar kemudian dibawa ke markas besar dan akan dijatuhi hukuman mati disana. Ditengah perjalanan tanpa disangka-sangka sepasukan Indian menghadang konvoi militer amrik. Mereka menghabisi seluruh pasukan Amrik dan membebaskan dunbar. Dunbarpun bergabung kembali dengan suku Indian.

Dunbar menyarankan kepada tetua suku agar demi keselamatan seluruh suku mereka hijrah ke wilayah Kanada di utara. Namun Tetua Suku yang bijak menolak, mereka mengatakan bahwa tanah leluhur adalah hak yang harus dipertanggungjawabkan walau dengan darah dan nyawa sebagai taruhan. Mereka menolak hijrah, atau dalam anggapan mereka melarikan diri. Karena sekali melarikan diri dari masalah, maka seumur hidup akan menjadi orang yang tidak memiliki harga diri.

Dunbar tertegun dengan jawaban Tetua suku dan warganya tersbut. akhirnya Dunbarpun menyatakan diri untuk bergabung bersama suku. Saran Tetua Suku agar Dunbar dan isterinya kembali ke habitatnya di lingkungan orang kulit putih, ditolak dunbar. Dunbar tidak ingin lagi kejadian serupa yang dialami 'double socks terulang. Dunbar tidak ingin persahabatan dan persaudaraan atas dasar rasa percaya yang dibangun dengan susah payah ini hancur tanpa dia berusaha dan berjuang untuk mempertahankannya (Pada saat Double socks dibunuh, Dunbar tidak berdaya untuk mencegah karena sedang ditawan).

Sebuah filem yang membuat ku tetap semangat menontonnya berulang kali,.. bagaimana dengan sobat-sobat sekalian??

(Mengenang saat jomblo ditahun 1991, nonton filem sendirian di Empire 21 Jalan Solo Jogja, berbekal sekaleng coca cola dan sebungkus Cheetos)

2 comments:

Allien 99 said...

Film ini memang sangat apik dan berkesan khususnya bagi kaum laki-laki. Advebtour, lonely, nurani, persahabatan dan alam ada dalam film ini. Very nice article.. :)

Johann said...

thx bro ALL,... hmmm... mungkin krn perdana nonton ini film saya dlm situasi spt itu ya?... makana jd film favorit... hahahaha

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...