August 10, 2010

KOPI ACEH YANG FENOMENAL


Aroma kopi Aceh sudah sejak lama terkenal di Indonesia, mungkin pula di dunia. Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesar di negeri kepulauan ini. Tanah Aceh menghasilkan sekitar 40 persen biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia.

Dan Indonesia merupakan pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia. Bicara kopi Aceh pascatsunami, tak bisa lepas dari berdatangannya komunitas internasional di bumi Serambi Mekkah ini. Mayoritas mereka juga menyukai kopi Aceh. Tak kurang dari seorang Bill Clinton, yang mantan Presiden Amerika Serikat itu pun, mengagumi kopi Aceh. Utusan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk korban tsunami itu, siap mempromosikan kopi Aceh, ke seluruh dunia melalui sebuah industri kopi di negerinya, Starbucks Coffee. Melalui dirinya, Starbucks Coffee telah menyatakan siap membeli kopi produksi Nanggroe Aceh Darussalam itu. Menurut Clinton, Starbucks Coffee telah menyetujui untuk mengambil kopi dari Aceh. Industri kopi itu tidak hanya membeli tapi juga mencantumkan dimana kopi itu berasal, yaitu tentu dengan label kopi Aceh.


Pada dasarnya kopi Aceh sama dengan kopi-kopi lainnya. Namun, karena ada beberapa bubuk kopi yang dicampur dengan bahan-bahan lain seperti jagung dan beras, ini bisa membuat cita rasa asli dari kopi hilang. Nawawi, pemilik kedai kopi Jasa Ayah atau lebih dikenal dengan Solong Ulee Kareeng, Aceh Besar tetap menjaga keaslian kopinya. Itu sebabnya, tutur Nawawi, orang-orang yang datang ke kedainya merasa puas meminum kopi racikannya.



Nawawi : “ Karena kopi kita gak campur pakai jagung, kopinya wangi harum, jadi gurih kopinya, jadi orang ketagihan, sekali merasakan itu punya keenakan dilidahnya gak ada rasa jagung rasa kopinya lebih kental begitu sehingga tagih”.

Kenikmatan meminum kopi juga tergantung biji dan bubuk kopinya. Nawawi mengatakan biji kopi di kedainya berasal dari Lamno, Aceh Jaya. Kadang persediaan kopinya tidak cukup, karena pengunjung dan pembeli kopi begitu ramai. Oleh karenanya, lanjut Nawawi, ia mencampur beberapa jenis biji kopi. Untuk itu, ketika ia menggiling biji kopi, ia mencampur biji kopi Lamno dengan biji kopi dari Geumpang Pidie tanpa menghilangkan aroma asli kopi masing-masing.

Nawawi : “ Biji kopi yang kopi utama dari lamno kemudian kita campur sedikit dengan kopi geumpang kopi daerah timur, lebih banyak kita pakai kopi lamno kalau langsung saya pakai semua kopi lamno hanya dapat terpakai dalam delapan bulan pemakaian dalam satu tahun itu delapan bulan jadi empat bulan lagi gak ada kopinya jadi terpaksa kami campur 25 persen kopi lain 75 persen kopi lamno, berarti kalau kita giling 40 kilo pakai kopi geumpang 10 kilo kopi lamno 30 kilo”.

Kedai kopi Aceh yang juga ramai dikunjungi peminum dan penikmat kopi adalah Chek Yuke, di kawasan Jl. Diponegoro, di jantung kota Banda Aceh. Iskandar, pemiliki kedai itu, yang biasa dipanggil Chek mengatakan untuk mendapatkan kopi yang nikmat bubuk kopinya harus berkualitas baik. Selain itu, dalam penyajiannya juga harus memakai perasaan dan memperhatikan selera pengunjung.

Chek : “ Memang harus menyatu cara buatnya, menyatu dengan jiwa kita cara mengolah kopinya, dia tergantung selera orang kadang-kadang orang suka kopi kental ada yang suka kopi encer, disitulah kita harus bisa menjaga selera orang”

Selain pemilihan biji kopi yang baik, proses penggilingan biji menjadi bubuk kopi juga harus dilakukan dengan sempurna. Ilham, selain bekerja di kedai kopi Solong ulee kareng tugas sehari-harinya juga menggiling kopi untuk kebutuhan kedai kopi itu. Dalam menggililng kopi, Ilham sangat memperhatikan kualitas bubuk kopi yang dihasilkan.

Ilham : “ Prosesnya yang pertama itu bijinya dibersihin, sesudah itu dikasi masuk molen sekali main dia 40 kilo 50 kilo sesudah itu dipengapian lebih kurang kita mutu yang terbaik 4 jam, 80 persen masak baru kita masuk gula sama mentega, itu langsung kemari digiling jadi halus jadi halus dibungkus jadi packing masukin kedalam siap dijual”

Berkumpul dan minum kopi di kedai memang sudah menjadi kebiasaan orang Aceh sejak dulu. Orang Aceh berkumpul di kedai kopi, lebih kepada untuk mempererat rasa persaudaraan. Nawawi, pemilik kedai Solong Ulee Kareng, melihat kebiasaan orang Aceh minum kopi ini sejak kecil. Menurutnya, dulu untuk mendapatkan secangkir kopi selain membayar dengan uang juga dilakukan barter atau menukar barang langsung seperti hasil kebun dan lain-lain.

Nawawi : “Sebelum kepasar orang aceh harus minum kopi, dari kecil saya malah waktu kecil saya sistemnya barter, jadi orang kampung minum habis itu datang kekota menjual hasil rempahnya pergi kekota menjualkan pisang menjualkan buah-buahan ada jambu, macam-macam pulang bayar, pulang sore bayar. Itu masih umur saya sepuluh tahun begitu orang minum dikampug. Seperti barter, kadang-kadang bawa pisang taruh pisang minum potong harga berapa “

Aroma kopi Aceh akan semakin menjelajah dunia ketika kopi ini telah menjadi salah satu menu dalam kedai kopi internasional, Starbucks Coffee. Seteguk demi seteguk kopi Aceh pun akan sampai ke lidah orang-orang dari mancanegara. Kenikmatan tiada taranya ketika menghirup kopi Aceh pun akan semakin bisa dinikmati warga dunia lainnya. Singkat kata, sekali mencoba kopi Aceh, dijamin pasti jatuh hati. Besok atau lusa nanti mesti kembali untuk merasakan kenikmatan aromanya lagi.

Sumber:http://dedeabdya.wordpress.com/2007/01/31/fenomena-kopi-aceh/

2 comments:

Dede Widi Kirana said...

Tapi ada yang janggal pak kalo nggak salah Brand kopi Takengon yg Notabene adalah bagian wilayah Aceh telah dipatenkan oleh Belanda

Jadi para pengusaha kopi disana tidak bisa mencantumkan label KOPI TAKENGON...kalo nggak siap siap berurusan dengan pengadilan perdagangan internasioanal

Johann said...

@Dede:
ga papa,.... bisa jadi pembelajaran juga ttg kepedulian terhadap apa yg dimiliki.... :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...