Follow us on:

ALAS MENTAOK (Legenda dan Sejarahnya)


Nama Hutan Mentaok (Jawa: Alas Mentaok.Red), mungkin tidak asing bagi masyarakat asli Yogyakarta dan sekitarnya. Dibekas areal hutan belantara yang konon terkenal angker dan wingit ini kemudian berdiri sebuah kerajaan besar yang pernah ada dalam sejarah Pulau jawa dan Indonesia, yaitu Kesultanan Mataram Islam. Kesultanan Mataram adalah cikal bakal terbentuknya Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta.

Kisah kelahiran Kesultanan Mataram Islam sendiri bermula dari kerajaan Demak diakhir masa Sultan Trenggono yang compang-camping akibat krisis politik. Adipati Jipang Panolan (Blora sekarang.Red) Aryo Penangsang berontak karena merasa lebih berhak atas tahta Demak dibanding Jaka Tingkir atau Mas karebet yang notabene hanya anak menantu sultan Trenggono. Konflik itu akhirnya dimenangkan oleh Jaka Tingkir yang kemudian mendirikan kasultanan Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijaya.

Kemenangan ini tak lepas dari peran Sutawijaya alias putra dari Ki Ageng Pemanahan. Dia berhasil membunuh Ario Panangsang sekaligus memadamkan pemberontakan jipang, serta memantapkan posisi Sultan Hadiwijaya.

Atas jasanya Sultan Pajang atau hadiwijaya menghadiahinya sebidang tanah luas, berupa kawasan yang disebut Hutan Mentaok (Jawa: Alas Mentaok.Red). Kawasan ini kelak, setelah dibuka, dinamai Bumi Mataram dan masih merupakan wilayah Pajang (Sekarang meliputi wilayah Kotagede, Yogyakarta)

Alas Mentaok atau hutan mentaok tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai hutan belantara, dan pembukaannya tidak semata-mata dilakukan dengan merubuhkan pohon dan meratakan tanah saja. Karena sejatinya di Mentaok masih ada sebuah kedaton, atau kerajaan kecil yang setia pada bekas Kekaisaran Majapahit dan bukan tunduk ke Sultan Pajang. Kedaton itu sendiri konon, sebelumnya memang sudah bernama Mataram.

Jadi pemberian alas Mentaok kepada Sutawijaya bukan dimaknai pemberian gratis. Tetapi lebih merupakan perintah Sultan Hadiwijaya untuk melebarkan kekuasaaanya ke selatan yang selama itu telah gagal dilakukan Kesultanan Demak dan Pajang sendiri.

Waktu itu, singgasana kedaton Hutan Mataram ini diduduki seorang ratu, yang bergelar Lara Kidul Dewi Nawangwulan. Konon dia lahir dari dinasti Kalacakra (Tantrayana), dari Maharani (Kaisar Wanita) Suhita dengan suami sang Aji Ratna Pangkaja, raja dari tlatah pamalayu.

Si Lara Kidul diambil menantu Raja Majapahit, Brawijaya (Bre Wengker: 1456-1466), dan dijodohkan dengan Raden Bondan Kejawan alias Kidang Telangkas, (putra Brawijaya hasil perkawinan nya dengan Wandan Bodricemara). Ratu Kedaton Mataram berikut nya ialah Dewi Nawangsih, putri Lara Kidul Dewi Nawangwulan dengan Bondan Kejawan. Ratu penerus Nawangsih yaitu Ni Mas Ratu Angin Angin. Atas prakarsa Sultan Hadiwijaya, Ni Mas Ratu Angin Angin dinikahkan dengan Sutawijaya, putra angkat nya itu.

Ketika di Pajangpun konflik politik pecah. Anak Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benowo yang merupakan pewaris Pajang di kudeta oleh Aryo Pangiri adipati Demak. Merasa terdesak Benowo meminta bantuan Sutawijaya di Mataram. Setelah berhasil mengalahkan Aryo Pangiri Pangeran Benowo menyerahkan pusaka Pajang pada Sutawijaya. Dan sebagaimana kisah-kisah selanjutnya tentang asal mula Mataram. Sutawijaya kemudian mendirikan kerajaan Mataram Islam yang bebas dari pengaruh Pajang, dan bergelar Panembahan Senopati (Raja/Sultan Mataram Islam yang pertama).

Dicuplik dan digubah dari berbagai sumber di google


Sukseskan Pariwisata Indonesia dengan menjadi AGEN TIKET ONLINE:
'Create