March 12, 2012

ALAS MENTAOK (Legenda dan Sejarahnya)


Nama Hutan Mentaok (Jawa: Alas Mentaok.Red), mungkin tidak asing bagi masyarakat asli Yogyakarta dan sekitarnya. Dibekas areal hutan belantara yang konon terkenal angker dan wingit ini kemudian berdiri sebuah kerajaan besar yang pernah ada dalam sejarah Pulau jawa dan Indonesia, yaitu Kesultanan Mataram Islam. Kesultanan Mataram adalah cikal bakal terbentuknya Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta.

Kisah kelahiran Kesultanan Mataram Islam sendiri bermula dari kerajaan Demak diakhir masa Sultan Trenggono yang compang-camping akibat krisis politik. Adipati Jipang Panolan (Blora sekarang.Red) Aryo Penangsang berontak karena merasa lebih berhak atas tahta Demak dibanding Jaka Tingkir atau Mas karebet yang notabene hanya anak menantu sultan Trenggono. Konflik itu akhirnya dimenangkan oleh Jaka Tingkir yang kemudian mendirikan kasultanan Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijaya.

Kemenangan ini tak lepas dari peran Sutawijaya alias putra dari Ki Ageng Pemanahan. Dia berhasil membunuh Ario Panangsang sekaligus memadamkan pemberontakan jipang, serta memantapkan posisi Sultan Hadiwijaya.

Atas jasanya Sultan Pajang atau hadiwijaya menghadiahinya sebidang tanah luas, berupa kawasan yang disebut Hutan Mentaok (Jawa: Alas Mentaok.Red). Kawasan ini kelak, setelah dibuka, dinamai Bumi Mataram dan masih merupakan wilayah Pajang (Sekarang meliputi wilayah Kotagede, Yogyakarta)

Alas Mentaok atau hutan mentaok tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai hutan belantara, dan pembukaannya tidak semata-mata dilakukan dengan merubuhkan pohon dan meratakan tanah saja. Karena sejatinya di Mentaok masih ada sebuah kedaton, atau kerajaan kecil yang setia pada bekas Kekaisaran Majapahit dan bukan tunduk ke Sultan Pajang. Kedaton itu sendiri konon, sebelumnya memang sudah bernama Mataram.

Jadi pemberian alas Mentaok kepada Sutawijaya bukan dimaknai pemberian gratis. Tetapi lebih merupakan perintah Sultan Hadiwijaya untuk melebarkan kekuasaaanya ke selatan yang selama itu telah gagal dilakukan Kesultanan Demak dan Pajang sendiri.

Waktu itu, singgasana kedaton Hutan Mataram ini diduduki seorang ratu, yang bergelar Lara Kidul Dewi Nawangwulan. Konon dia lahir dari dinasti Kalacakra (Tantrayana), dari Maharani (Kaisar Wanita) Suhita dengan suami sang Aji Ratna Pangkaja, raja dari tlatah pamalayu.

Si Lara Kidul diambil menantu Raja Majapahit, Brawijaya (Bre Wengker: 1456-1466), dan dijodohkan dengan Raden Bondan Kejawan alias Kidang Telangkas, (putra Brawijaya hasil perkawinan nya dengan Wandan Bodricemara). Ratu Kedaton Mataram berikut nya ialah Dewi Nawangsih, putri Lara Kidul Dewi Nawangwulan dengan Bondan Kejawan. Ratu penerus Nawangsih yaitu Ni Mas Ratu Angin Angin. Atas prakarsa Sultan Hadiwijaya, Ni Mas Ratu Angin Angin dinikahkan dengan Sutawijaya, putra angkat nya itu.

Ketika di Pajangpun konflik politik pecah. Anak Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benowo yang merupakan pewaris Pajang di kudeta oleh Aryo Pangiri adipati Demak. Merasa terdesak Benowo meminta bantuan Sutawijaya di Mataram. Setelah berhasil mengalahkan Aryo Pangiri Pangeran Benowo menyerahkan pusaka Pajang pada Sutawijaya. Dan sebagaimana kisah-kisah selanjutnya tentang asal mula Mataram. Sutawijaya kemudian mendirikan kerajaan Mataram Islam yang bebas dari pengaruh Pajang, dan bergelar Panembahan Senopati (Raja/Sultan Mataram Islam yang pertama).

Dicuplik dan digubah dari berbagai sumber di google


Sukseskan Pariwisata Indonesia dengan menjadi AGEN TIKET ONLINE:
'Create

5 comments:

yunims said...

Cerita diatas lumayan bagus meski masih perlu koreksi. Baik nama maupun urutan peristiwa. Blog ini sering di baca suami saya. Dan dari nama2 pelaku sejarah, my hubbie sdh melihat makam leluhurnya semua. Dan suami tidak bisa lupa kejadian (1990-an)menyeramkan di makam leluhurnya yg paling dituakan (Kidang Telangkas/Bondan Kejawan/Lembu Peteng/JAKA TARUB!)di daerah Grobogan, Purwodadi. Pemahaman saya tidak seluas my hubbie. Tapi kalo anda ingin melihat awal mula alas Mentaok, ada petilasannya yaitu Alas Purwo (disebut Purwo yang artinya pertama kali/sepisanan) di daerah Purwomartani (tidak jauh dari perumahan Polda dan perum Pertamina).

JOHAN PURNOMO said...

Informasi yang bagus, saya pun termasuk salah satu pelaku spiritualis kejawen trah Ngayogyakarta, setahu saya yang disebut Alas Purwo itu terletak di daerah Banyuwangi dan memang terkenal wingit. Salam persahabatan, mohon maaf bila ada salah kata.

Mas3 said...

Nyimak aja saya. Izin share aja.

Yuni Sulistyaningrum said...

@ Mas Johan Purnomo...Alas Purwo di Banyuwangi ada (dan memang berupa hutan yang masih wingit). Tapi di Jogja juga ada meskipun hutannya sudah tidak ada lagi dan berganti perumahan penduduk dekat purwomatani. Yang ada hanyalah petilasannya aja...berupa sebuah batu di tengah2 bangunan pendapa (bangunan baru untuk melindungi petilasan tersebut)dan sebuah pohon beringin tua. Konon itu petilasan tempat HB I bersemadi untuk mendapatkan wahyu keprabon. Karena dulu namanya alas purwo maka disitu dikenal sebagai petilasan alas purwo dan banyak diziarahi orang. HB ke-9 jg dulu sering nenepidi situ dikala muda dan dg berjalan kaki (menyamar sbg rakyat biasa). Presiden Soeharto juga sering nenepi di petilasan alas purwo. Sekarang ada tambahan bangunan baru tempat menyimpan pusaka yg di bangun Ibu Suharti (Ayam Goreng Suharti) yg juga sangat sering berziarah di situ. Cerita ini dituturkan langsung oleh Bp. H. Setyono (Pak Setyo)kepada saya. Beliau salah satu sesepuh spiritual kraton. Kebetulan rumahnya deket rumah kakak, dan deket dengan petilasan Alas Purwo, jadi kami sering main ke sana dan mendengarkan hal2 yg nggak banyak diketahui orang. Pak Setyo banyak membantu menyelamatkan orang2 jawa/ madura ketika terjadi kerusuhan Sampit. Semua cabup n caleg dan beberapa pejabat di Jogja (bahkan luar Jawa) sering berkunjung ke rumah beliau. Saya paling betah kalo beliau mendongeng hal2 di masa lalu yg hanya bisa dilihat scr gaib. Alhamdulillah 3 tahun lalu beliau udah berangkat haji dan bareng/satu rombongan dg mertua hingga hubungan keluarga kami makin deket.

BLOG KI AGENG MANGIR PEMBAYUN said...

Berapa banyak orang Jawa yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah kepengecutan P.Senopati, padaha Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://pembayun-mangir.blogspot.com/ , akan anda temui kejuatan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang