February 19, 2011

SELOKAN MATARAM Yogyakarta (Sejarah dan Kisahnya)

Hampir semua orang yang pernah tinggal di Yogyakarta pasti tahu Selokan Mataram. Terletak diutara kota Yogyakarta, melintasi juga bagian utara kampus UGM dan UNY (dulu IKIP.Red). Rupanya selokan atau kanal ini memiliki sejarah yang lumayan panjang. Saya sendiri (Admin Jogjaicon) yang tinggal hanya beberapa meter dari Selokan Mataram di sebelah utara Mirota Gejayan juga baru mengetahuinya. Maka tidak ada salahnya berbagi kisah mengenai Selokan fenomenal ini.



Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana VIII, di wilayah Yogyakarta banyak berdiri pabrik gula, berjumlah 17 pabrik. Dengan berkembangnya pabrik-pabrik tersebut maka kemudian dibangun sarana-sarana pengairan (irigasi) di wilayah Yogyakarta.

Pada tahun 1909 pemerintah kolonial Hindia Belanda telah membangun selokan Van Der Wijck dan Bendungan Karang Talun. Kedua bangunan pengendalian air tersebut mengaliri areal perkebunan tebu di sebagian wilayah Kabupaten Sleman dan sebagian wilayah Kabupaten Bantul.
Kemudian Sri Sultan Hamengkubuwana IX dilantik pada hari Senin Pon tanggal 18 Maret 1940. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hemengkubuwana IX situasi sekitar Yogyakarta adalah situasi pergerakan dan perjuangan kemerdekaan RI. Sehingga tidak banyak terfokus kepada pembangunan fisik. Sri Sultan Hamengkubuwana IX berperan besar dalam keberadaan atau proses demokratisasi dan modernisasi Kraton Yogyakarta. Masa ini terjadi perubahan penting yaitu bergesernya konsep kekuasaan absolut bergeser kearah yang bersifat demokratis dari konsep keagungbinatharaan menjadi konsep kekuasaan ‘Tahta Untuk Rakyat’.

Salah satu tindakan yang mengukuhkan Sri Sultan HB IX sebagai pemegang Tahta Untuk Rakyat, yaitu peranan beliau dalam penempatan tenaga kerja romusha di wilayah Yogyakarta. Pada masa penjajahan Jepang, tenaga romusha disalurkan ke luar Pulau Jawa untuk mengerjakan proyek-proyek pembangunan sarana transportasi, pertanian dan perkebunan untuk kepentingan pemenangan perang bagi pihak Jepang. Sri Sultan HB IX dengan pengaruhnya yang besar terhadap pemerintahan Jepang, mengusulkan agar romusha dari wilayah Yogyakarta dapat mengerjakan proyrk-proyek di wilayah Yogyakarta sendiri. Selain itu, Sri Sultan HB IX mengusulkan proyek pembangunan saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak.

Latar belakang lain dari pembangunan proyek ini adalah kepercayaan masyarakat , bahwa wilayah Yogyakarta akan makmur apabila sungai Progo dikawinkan dengan sungai Opak . Hal lain yang dilakukan Sri Sultan HB IX adalah memanipulasi data tentang kemakmuran wilayah Yogyakarta dengan cara menyebutkan bahwa kondisi penduduk dan areal pertanian nya sangat memprihatinkan karena masalah pengairan. Sehingga jika ada sarana pengairan maka hasil pertanian akan melimpah dan dapat memberikan kontribusi penting bagi Jepang. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, kemudian pemerintah Jepang menyetujui dibangunnya sarana pengairan tersebut yang nantinya dikenal dengan nama Selokan Mataram, sehingga hal ini menyelamatkan atau mengurangi penderitaan dan korban jiwa pada para pekerja romusha dan memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan wilayah Yogyakarta. Selokan Mataram dibanguan tahun 1944, sepanjang 30,8 km dan mengairi areal pertanian seluas 15.734 ha. Saluran ini berhulu di selokan Van Der Wijck yaitu di dusun Macanan, Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang.

Renovasi yang pernah dilakukan, pertama tahun 1950, yang terakhir tahun 1980 oleh Departemen Pekerjaan Umun yang memperbaiki talud selokan di bagian hulu sepanjang 10 km.

Sumber utama artikel:http://arif-irawan.web.ugm.ac.id/W/?p=21

2 comments:

Sudut Niaga said...

info bagus, dab... banyak anak jogja yang belum tahu tuh, tentang sejarah di sekelilingnya, hehehe

Sudut Niaga said...

artikel bagus, dab... biar kita2 anak muda jogja tahu sejarah di sekelilingnya, hehehe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...