February 04, 2011

WATU GILANG (Situs peninggalan kejayaan Kesultanan Mataram Islam)


Kotagede memiliki sejarah tersendiri bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Kotagede adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berkembang menjadi Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Jejak fisik sejarah tentang kejayaan Mataram masih bisa ditemui disekitar Kota Gede. Antara lain makam raja pertama mataram islam, Panembahan senopati, situs watu gilang dan lain-lain.

Situs Watu Gilang menjadi saksi atas kejayaan Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Situs ini bisa ditemukan dengan menyusuri jalan dari Pasar Gede ke arah selatan kurang lebih 500 meter, melewati Kompleks Makam dan Masjid Agung Kotagede hingga sampai pada sebuah bangunan yang berdiri di tengah jalan. Bangunan ini juga dikelilingi pohon-pohon beringin dan sebuah pohon Mentaok rindang yang memberikan hawa sejuk. Di dalam bangunan inilah peninggalan bersejarah berupa watu gilang disimpan.

Kompleks situs Watu Gilang menyimpan peninggalan Kerajaan Mataram antara lain Watu Gilang, Watu Gatheng, dan Watu Genthong. Watu Gilang sendiri dipercaya merupakan batu singgasana Panembahan Senopati.

Watu Gilang berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2 x 2 meter berwarna hitam. Di atasnya terdapat pahatan-pahatan tulisan dalam beberapa bahasa yang sudah tidak dapat terbaca lagi karena sudah terkikis. Tulisan ini konon berisi tentang keluh kesah dan kepasrahan terhadap nasib dan takdir. Konon di batu ini pula, Panembahan Senopati mendapat wangsit melalui Lintang Johar.

Batu jenis andesit hitam ini dulu dibawa dari Hutan Lipuro (sekarang daerah Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.Red). Di atas singgasana batu inilah Kerajaan Mataram digerakkan oleh Panembahan Senopati.

Pada sisi sebelah timur batu ini, terdapat cekungan. Cekungan ini konon muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati, hingga tewas.

Ki Ageng Mangir merupakan musuh dari Panembahan Senopati. Ki Ageng Mangir melakukan perlawanan karena tidak mau tunduk terhadap kekuasaan Mataram. Untuk menaklukkannya, Panembahan Senopati melakukan taktik “Apus Krama” atas usulan dari Ki Juru Mertani. Taktik “Apus Krama” ini adalah taktik dengan cara mengirimkan Puteri Pembayun (Putri tertua Panembahan Senopati) menjadi penari tayub untuk memikat Ki Ageng Mangir.

Setelah Ki Ageng Mangir tertarik dan menikahi Puteri Pembayun, mau tidak mau dia harus sowan/menghadap ke mertuanya yang ternyata adalah Panembahan Senopati. Saat Ki Ageng Mangir sungkem inilah ia kemudian dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan cara dibenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke singgasana Watu Gilang hingga ia tewas seketika.

Makam Ki Ageng Mangir bisa ditemui di Kompleks Makam Kotagede yang memiliki keunikan tersendiri. Makam Ki Ageng Mangir sebagian berada di dalam benteng makam, sedangkan sebagian lainnya berada di luar benteng. Ini terjadi karena Ki Ageng mangir yang dianggap musuh dalam selimut Kerajaan Mataram.

Dicuplik dan direvisi seperlunya dari sumber:http://jengjeng.matriphe.com/

1 comment:

BLOG KI AGENG MANGIR PEMBAYUN said...

Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://pembayun-mangir.blogspot.com/ , akan anda temui kejuatan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...