Follow us on:

ASAL USUL NAMA KAMPUNG PECAH KULIT Jakarta

Monumen Pertama yang bentuknya mengerikan untuk mengingat Pemberontakan Eberveld (Pangeran Pecah Kulit)

Kisahnya pada 14 April 1722 seorang indo-Eropa yang kaya raya di Batavia bernama Pieter Erberveld (bapak jerman ibu Thailand) mencoba melakukan kudeta terhadap pemerintah kolonial di Batavia. Ia yang berhubungan dekat dengan rakyat pribumi bekerja sama dengan Raden Kartadaria untuk membunuh semua orang Belanda di Batavia pada pesta tahun baru 1722 dengan tujuan agar Erberveld bisa menjadi Toean Goesti alias penguasa Batavia. Namun akhirnya tiga hari sebelum rencana itu, ada yang membocorkan. Kabar yang beredar bahwa si pembocor rahasia adalah seorang budak yang sakit hati, tapi ada juga yang bilang kalau Sultan di Banten yang takut akan kehilangan wilayah kekuasaanlah yang membocorkannya. Dan akhirnya Raden Kartadaria dihukum gantung sedangkan Erberveld dihukum dengan cara yang sadis. Tangan dan kakinya diikat dengan ujung-ujungnya diikatkan ke empat ekor kuda yang kemudian akan menarik tubuhnya keempat jurusan berbeda.Maka didirikanlah prasasti itu ditempat kediaman Erberveld yaitu di Jacatraweg (sekarang Jl. Pangeran Jayakarta, tempat elit masa lalu di Batavia).

Ada sumber lain yang mengatakan bahwa sultan dari Banten, yang diminta Erberveld untuk mendukung rencana pemberontakan, memberi tahu sang gubernur jenderal. Pasalnya sang sultan cemas akan pengaruh Erberveld dan Kartadria dalam wilayah kekuasaannya. Tiga hari menjelang rencana pembunuhan itu dilakukan, semua peserta pertemuan rahasia yang berlangsung di rumah Erberveld, ditangkap. Tempatnya persis di showroom mobil saat ini. Sejak 1985, ruang pamer itu ”sukses” menggeser keberadaan situs sejarah Erberveld. Bersama tujuh belas pengikutnya yang kesemuanya orang pribumi, Erberveld bersama Kartadria dihukum mati pada 22 April 1722. Pelaksanaan hukuman yang sadis itu digelar di lapangan sebelah selatan Benteng Batavia. Bayangkan, tubuh mereka semua dicincang dan jantung dicopot. Saking sadisnya, tubuh itu ditarik ke empat penjuru dengan empat kuda sampai pecah jadi empat bagian. Karena alasan keamanan maka pembunuhan ini tak dilakukan di depan Balai Kota. Orang Belanda khawatir pengikut-pengikut yang belum tertangkap akan menuntut balas. Kampung sekitar bekas monumen itu masih disebut Kampung Pecah Kulit.

Sebelum dipindahkan ke Taman Prasasti, monumen ini berdiri tegak disamping Gereja Protestan Sion Jakarta. Replika monumen itu bisa ditemukan di Museum Fatahillah Jakarta. Sebenarnya ada satu versi lagi tentang kejadian pemberontakan Erberveld, yaitu jebakan dari Gubernur Jendral pada masa itu : Zwaardecron yang ingin mengusai tanah milik Erberveld yang luas. Kenapa? Karena tanggal pembuatan prasasti tersebut! Pada tanggal 14 April 1722 prasasti tersebut dibuat, sedangkan tanggal kematian Erberveld adalah 22 April 1722

Monumen dilokasi sebelum dipindahkan di Jacatraweg (sekarang Jl. Pangeran Jayakarta) Batavia . foto tahun 1875.


Tulisan di prasasti itu
Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan akan penghianat Pieter Erberveld yang dihukum, tak seorang pun sekarang atau seterusnya akan diizinkan, membangun, menukang, memasang batu bata atau menanam di tempat ini”

Kisah Erberveld atau si pecah kulit itu hidup terus selama dua abad dikalangan penduduk Jakarta sampai berakhirnya kekuasaan Belanda. Dan tempat dimana tengkorak batu itu terpancang dinamakan Pecah Kulit.



Pengakuan Semu
Seorang sejarahwan Belanda, Prof. Dr. E.C.Godee Molsbergen menulis tentang peristiwa Erberveld dalam De Nederlandsch Oostindische Compagnie in de Achtiende eeuw, yang termuat dalam buku sejarah Geschiedenis van Nederlands Indie, jilid empat, himpunan Dr. F. W. Stapel.

Menurut Prof. Dr. Godee Molsbergen, "Pada akhir desember tahun 1721, di masa pemerintahan gubernur Zwaardecroon, telah terbongkar sebuah komplotan yang dianggap amat berbahaya. Komplotan itu bertujuan membunuh semua orang kulit putih di Jawa dan menduduki Batavia. Mungkin sekali, karena berbagai keadaan pada masa itu, orang tak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sengala rencana komplotan itu diperoleh dari hasil siksaan-siksaan. Apalagi 'Semua pengakuan' itu satu sama lain tidak cocok; misalnya tentang waktu rencana."

Dari tulisan itu jelas bahwa Molsbergen termasuk orang yang menyangsikan tentang kebenaran tuduhan dan keadilan hukuman yang dijatuhkan.

Tengkorak yang mengerikan itu kini sudah tidak ada lagi di jalan Pangeran Jayakarta. Masyarakat Jakarta sudah ingin menghilangkan pemandangan tak sedap itu sebelum perang. Menjalang meletusnya perang Pasifik, sebuah perkumpulan orang - orang Indo mengajukan permintaan untuk menyingkirkannya. Permintaan itu di tolak. Akhirnya penyingkiran tengkorak itu baru terlaksana setelah Belanda kalah melawan Jepang.

Setelah patung tengkorak beserta maklumatnya diangkat dari taman pecah kulit, maka kisah Pieter Erbervelt kini tersimpan di museum dan dalam kenagan para orang tua yamg menurunkannya secara turun-menurun. [Intisari, September 1968]

Sumber:http://petrussoeganda.multiply.com/journal/item/68/