January 21, 2011

DUNIA HANTU ORANG JAWA (Filsafat dan Budaya)

Masyarakat belahan dunia Timur (Include: Indonesia) sejak dulu kala selalu mengkaitkan makna realita secara simbolis, atau dgn suatu filosofi maupun hakekat. Menyampaikan suatu hal yg fenomenal apalagi yang Negatif scr gambling kadang menjadi hal yang tabu. Kondisi seperti inilah yang akhirnya mewujudkan keberadaan atau eksistensi dari HANTU. Seiring perjalanan waktu kondisi ini mengalami banyak perubahan dan perkembangan, bahkan kadang melampaui pola pikir logis yaitu mengentalnya mitos dan legenda dalam alma bawah sadar. Kepercayaan terhadap adanya Hantu, atau sebut: Makhluk Halus/Ghaib sering di kuatkan dengan adanya keyakinan terhadap Maha Kekuatan Yang Tidak bisa dilihat mata.




Akhirnya Sosok mistis namun eksotis yang disebut Hantu, pun bertebaran di dunia pikir masyarakat, sebut saja mulai dari Nyi Roro Kidul (maaf jika salah sebut/tulis), Sundel Bolong (Film nya bersequel diperani Alm. Suzzana), Kuntilanank, Pocong, Suster Ngesot, Jailangkung dan lain sebagainya.
Implementasi secara fisik tentang hal tersebut pun masih tertatar lengkap, tentunya publiK tidak asing dgn upacara adat larungan di pesisir pantai selatan jawa, sesaji bumi saat panen raya, atau upacara dipuncak2 gunung spt bromo & tengger.


Upaya dari akal budi (budaya) penguatan sosok hantu bagi masyarakat awam amat mungkin sesungguhnya merupakan bentuk pesan, kritik, protes terhadap kondisi moral, sosial bahkan politik yang sedang berlaku.
Beberapa contoh yang mungkin dapat menguatkan analisa ringan tsb:

1) Penguatan dan pembenaran bahwa setiap penguasa jawa harus memiliki “hubungan khusus” dgn Nyi Roro Kidul (Penguasa ghaib mistis Laut selatan jawa) adalah bahwa setiap pimpinan harus memiliki kekuatan rohani (moral dan akhlak) yg kuat, agar mampu membawa rakyatnya pada kondisi gemah ripah loh jinawi.

2) Penggambaran sosok hantu perempuan (wewe, sundel bolong cs) yg suka memperdaya & mencelakai para lelaki, suatu bentuk pesan & kritik sosial bagi para lelaki agar mewaspadai langkah hidup dari godaan nafsu syahwat maksiat duniawi.

3) Atau adanya para mbaureksa, gendruwo penjaga ghaib suatu tempat seperti hutan, sungai, rawa, situs purbakala dimaksudkan sbg pesan sosial utk membantu merawatnya dan mencegah perusakan atasnya… layaknya fenomena industrialisasi yg membabat semua tempat demi hitungan materi semata.

4) Belum lg “tamparan” berupa cerita2 simbolik pesugihan (kekayaan jln pintas) seperti mblorong (ular), ngepet (babi), nyegik dll…. Tentunya terpapar jelas bagaimana fenomena para kuroptor di negeri ini yg berkolaborasi dgn “hantu” dgn tumbal kepentingan rakyat banyak demi kekayaan pribadi/golongan…

Terlepas ada dan tiada sosok hantu, bagi masyarakat “mereka” telah mendapat tempat yg permanent. Entah di hati, pikiran, perbincangan atau sekedar ungkapan umum… seperti:
“Jangan pulang kemalaman… digondhol “kuntilanak” baru tahu lo….”
Demikian jg dgn boomingnya era layar kaca (sinetron), dimana para hantu pun turut meramaikan latahnya produksi film tentang kisah2 hiperbolik mereka… dengan tanpa royalti bagi para hantu tersebut... :D

(Sambil nulis gw inget gimana si cute Julie Estele dan Nia Ramadhani yang sukses besar ‚memanfaatkan sosok Hantu untuk karir entertaint nya: KUNTILANAK the Movie serta Suster Ngesot)

Note:

Best Salut to Mas SUWARDI ENDRASWARA (Dosen FBS UNY Jokja’),
buku filsafat “DUNIA HANTU ORANG JAWA” karya panjenengan yg saya beli dipameran buku di gedung wanita yogyakarta tahun 2006 memang Spektakuler.
Love Jokja And U........

Sumber:

Judul Buku: Dunia Hantu Orang Jawa

Penulis : Suardi Endaswara

Ukuran : 14,5 x 21 cm Tebal : xx + 270 hlm

ISBN : 979-7564-53-3 Cetakan : ke-1, 2004

1 comment:

Organik Aceh said...

Artikel yang menarik, terima kasih sob...