March 24, 2011

ARJUNA (Bukan sekedar DON JUAN)

Tokoh pewayangan Arjuna adalah seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Durna di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugerah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).


Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.

Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya.

Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi.

Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain: Keris Kiai Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putra Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Durna), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.

Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

Dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai banyak sekali istri,itu semua sebagai simbol penghargaan atas jasanya ataupun atas keuletannya yang sekaku berguru kepada banyak pertapa. Berikut sebagian kecil istri-istrinya:

1. Dewi Subadra, berputra Raden Abimanyu;
2. Dewi Sulastri, berputra Raden Sumitra;
3. Dewi Larasati, berputra Raden Bratalaras;
4. Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Bambang Irawan;
5. Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti;
6. Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka;
7. Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni;
8. Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga;
9. Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati;
10. Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma;
11. Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa;
12. Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada;
13. Dewi Maheswara;
14. Dewi Retno Kasimpar;
15. Dewi Dyah Sarimaya;
16. Dewi Srikandi.

Sumber artikel dan images: KILAS NUSANTARA BLOG


3 comments:

yunims said...

Saya paling demen dengan falsafah wayang. Idola saya Adipati Karna, sifat2nya sangat pas klo diterapkan di segala jaman termasuk sekarang. Sedang yang kurang saya suka sebenarnya pandawa lima (minus Punthadewa). Jika kita mau jujur, semua kemenangan Pendawa dalam Perang Barathayuda Jayabinangun, dilakukan dengan siasat licik yang diatur Sri Kresna. Ini yang membingungkan saya, knapa perang melawan angkara murka (bala Kurawa) harus menggunakan siasat yang tidak kesatria?. Tapi akhirnya Sri Kresna mendapatkan karma diakhir kisahnya. Pandawa yang mampu mencapai puncak Himalaya hanya Punthadewa bersama seekor anjing jelamaan Bethara Darma (ayah handanya sendiri). Yang lain tidak sampai pada puncak kesempurnaan (moksa). Salam persahabatan...ini hanya bahan kajian untuk saling melengkapi saja, karena interpretasi suatu cerita memang bisa berbeda satu sama lain. Hanya satu hal yang saya yakini kebenarannya yaitu sikap dan sifat Adipati Karna yang mengandung filsafat kebenaran yang hakiki.

yunims said...

Saya baru bisa men-follow balik sekarang. Saya online cuma di akhir pekan aja, karena harus berbagi waktu antara kesenangan berinternet dengan urusan dapur biar tetap ngebul xixixi...terimakasih telah men-follow saya.

NOGOBONDO said...

maturnuwun jeng.. sama spt jeng, sy juga sbtlnya kurang menggemari epic mahabharata.. sy lbih suka epic ramayana pd sentra figur hanoman, dan story yg paused sampe pembakaran alengka diraja... ada maksud "membersihkan citra" knp saya merepost artikel ttg arjuna ini... hehehe.. dan sy setuju dgn hakikat tokoh karna, sebagai penggambaran semangat 'nobody utk menunjukan kualitas hidup yg bukan berdasar keturunan atau kekayaan (penggalan cerita di lomba memanah antara arjuna dan karna)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...