March 18, 2011

NOVEMBER 1828 (Mengenang Film Indonesia berkualitas -2)

November 1828 (1978)
Sutradara: Teguh Karya
Pemain: Maruli Sitompul, Yenni Rachman, Slamet Rahardjo, Sunarti, El Manik
Produksi: PT Intersindo, PT Gemini Satria Film, PT Garuda Film


Untuk ukuran tahun itu, penghujung 1970-an, November 1828 ditasbihkan sebagai film termahal. Film itu tak kurang menelan dana 240 juta rupiah buat memproduksinya, jumlah yang cukup besar pada saat itu. Dana yang dihabiskan utamanya digunakan untuk membuat seting semirip zaman yang ingin diceritakan dalam film -- awal abad ke-19.

Film ini melibatkan beberapa tokoh sejarah buat jadi penasihat, tukang jahit, dan entah siapa lagi buat menghidupkan realitas yang terjadi dua abad lalu. Uniknya, segala tetek bengek artistik itu tak dipakai buat banyak adegan kolosal. November 1828 bukanlah jenis film itu. Ia sebuah drama di tengah medan perang.

Filmnya bertutur seputar pengepungan di rumah keluarga Kromoludiro (Maruli Sitompul), pengikut setia Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, Panglima perang Pangeran Diponegoro. Dalam rumah itu berbagai drama yang menguras kemampuan akting setiap pemainnya berlangsung. Ada drama seputar dilema memilih menyerah pada penjajah -- lantaran keselamatan keluarga terancam -- atau berpegang teguh pada prinsip perjuangan mengusir penjajah.


Postingan sejenis:

Tjoet Nya Dhien (Mengenang Film Indonesia berkualitas-1)

2 comments:

yunims said...

Dulu kalo TPI nayangin film2 lawas karya Teguh Karya, Asrul Sani, Nyak Abbas Akub, Arifin C. Noor, saya sangat terharu. Semangat mereka dalam membuat film yang berkualitas sangat tinggi. Dan sejarah membuktikan pada masa itu film2 kita menjadi raja di negeri sendiri, bahkan merajai film2 Asia!! Kini kita di 'paksa' lihat aktingnya JuPe,DePe, dsb yang gosip diluar film lebih heboh ketimbang film yang dibintanginya. Sedih banget Mas!!. Masih ingat betul dalam benak saya jaman "Film Akhir Pekan"TVRI tiap jam 10 malam Minggu, dimana acaranya dibuka dengan lagu Bimbo "..saya cinta...anda cinta...buatan Indonesia..." trus gambar layar bioskop terbuka. Sekarang tontonan memang banyak...tapi tidak lagi bisa dijadikan tuntunan!

Siluman Nogobondho said...

@Yunims: leres jeng... di dalam industri n budaya cinema juga kita kehilangan identitas diri untuk menampilkan sejatinya ttg ke-nusantaraan. Dimana bertebaranlah berbagai output produksi cinema anak bangsa yg isinya jiplakan, banyolan, demitan, hi-lifestyle dreaming.. namun sedikit terhibur dgn adanya LASKAR PELANGI bbrp waktu lalu...