August 08, 2011

Legenda LEGIUN ASING PERANCIS: Bukan sekedar Tentara Bayaran

MEI 1978, Kolwezi, ibukota Provinsi Shaba, Zaire, jadi kota mati. Jalan-jalan protokol dan perumahan mewah daerah elite di pusat kota senyap sepi. Mayat berserakan di jalan -- lelaki, wanita, anak-anak Di sepanjang boulevard berderet tubuh pasukan pemerintah Zaire, terikat di pohon dengan kepala terkulai: mati ditembak!. Provinsi Shaba -- dulu dikenal dengan nama Katanga--memberontak, dengan tujuan membebaskan diri dari Zaire. Kurang lebih 5.500 pemberontak Katanga dari Front Nasional Pembebasan Kongo menteror provinsi ini. Mereka menduduki ibukota yang berpenduduk 100.000. Dalam kemelut itu 4.000 orang asing terperangkap. 3.000 di antaranya orang Belgia--dan sisanya terbanyak orang Prancis. Tak syak lagi pemberontak yang anti imperialisme sangat bernafsu mengganyang orang-orang kulit putih yang sial ini. Sudah ada yang menjalani "hukuman" mati -- malah 34 wanita dan anak-anak tewas seketika di bawah berondongan senapan mesin. Pemerintah Zaire, Kongo baru, panik. Juga Belgia dan Prancis--yang kemudian memenuhi permintaan bantuan Zaire. 20 Mei, malam hari, Presiden Mobutu menelepon Presiden Valery Giscard d'Estaing. Dan 48 iam kemudian d'Estaing mengambil tindakan tanpa persetujuan Parlemen: memerintahkan pasukan payung Legiun Asing-terdiri dari 1.200 orang --- berangkat dari pangkalannya di Corsica, italia. Mereka bergerak ke Shaba. Penyerbuan dilaksanakan cepat dari arah Timur--Icota-kota Kolwezi dan Mutshatsha dihantam. Sehingga pada ' 26 Mei, ketika pasukan gabungan Belgia-Prancis diterjunkan di sekitar Kolwezi dengan bantuan pesawat Hercules C-130 milik Angkatan Udara Amerika Serikat, Kolwezi praktis sudah dikuasai.



Tapi, siapakah Legiun Asing yang berjasa itu? Tidak seperti banyak dibayangkan orang, mereka bukan tentara bayaran --yang terkenal dengan nama Mercenaries Yang terakhir itu orang-orang profesional yang menjual jasa di bidang perang. Legiun Asing Prancis, sebaliknya, memang bagian dari Angkatan Perang Prancis yang dibentuk lebih satu abad yang lalu--dan di bulan Maret mendatang akan merayakan ulang tahunnya ke-151. Memang, legiun ini terdiri sebagian besar dari orang bukan-Prancis, yang terikat karena bayaran. Ia bahkan bisa dikatakan tentara bayaran yang tertua di dunia. Namun mereka bukanlah sekedar penyedia tenaga yang teken kontrak lantaran kebutuhan, dan secara teori gampang berpindah-pindah majikan . Ciri kedua, yang membedakan mereka dari Mercenaries--yang tak lain adalah veteran tentara dari sesuatu negara yang sudah terlatih--ialah: Legiun Asing dibangun dari bekas bajingan dan pelarian. Hampir semua anggotanya punya latar belakang gelap --dulu maupun kini. Atau mereka itu buron yang mencari tempat aman, atau orang yang putus asa karena patah hati atau hal lain. Konon begitu dibentuk atas perintah Raja Louis Philippe, diresmikan oleh Parlemen Prancis pada 9 Maret 1831, sasaran Legiun Asing sebenarnya mempertinggi mobilitas angkatan perang Prancis. Sebab, di Prancis ada undang-undang yang mengharuskan Raja meminta persetujuan Parlemen untuk mengirim para wajib militer ke medan pertempuran di luar negeri. Jadi sering bertele-tele. Tapi orang-orang asing dikecualikan dalam undang-undang ini. Kebiasaan mempekerjakan pasukan asing sendiri nampaknya sudah ada sejak lama di Prancis. Raja Charles VIII dan Louis XI senantiasa dikelilingi pengawal pribadi berkebangsaan Skotlandia. Dinasti Bourbon tercatat punya pasukan khusus orang Swiss. Sedang Napoleon Bonaparte punya pasukan pengawal orang Polandia--plus seorang pengawal pribadi bangsa Arab. Mempekerjakan bekas bajingan bagi Legiun Asing sendiri tampaknya cocok dengan tempat bekerja berupa medan cukup berat yang ditawarkan kala itu. Misalnya Afrika Utara, Aljazair, Turki. Dalam pendaftaran bahkan ada ketentuan: calon diperbolehkan menggunakan nama palsu. Semua latar belakang dan asal-usul dijanjikan akan dirahasiakan. "Yang penting," bunyi peraturan itu, "keadaan fisik yang siap tempur dan loyalitas." Hasilnya tak mengecewakan.


Sepanjang separuh sejarah Prancis, Legiun Asing dikenal sebagai pasukan berani mati. Legiun itu jadi legendaris. Berbagai kisah kepahlawanannya ditulis orang. Tak syak dibutuhkan tangan besi untuk menggembleng para buronan jadi "orang-orang positif". Dan memang para pelatih dan komandan mereka diceritakan sebagai tegar, menekankan disiplin kaku, sampai nampak bak orang gila. Komandannya yang pertama Kolonel Stoffel. Ia perwira senior kala itu, dikenal tangguh dan punya pengalaman bertempur melawan Spanyol. Dialah yang menyusun sistem latihan perang gurun yang pertama bagi orang Barat. "Penggal saja kepala mereka yang menolak patuh--atau yang lamban!" teriaknya. Dan itu bukan cuma gertak sambal: ia sungguh-sungguh memberlakukan peraturan tembak mati bagi anggota yang dinilai seperti itu. Ia berhasil--dan cara-caranya seperti lantas disepakati, dan diteruskan. Jenderal de Negrier, komandan yan lain, jadi terkenal karena mewarnai kekerasannya dengan ucapan-ucapan brutal dan kasar. "Kalian anggota Legiun adalah pasukan berani mati yang harus siap-siap menghadapi akhirat. Saya bertugas mengirim dan menentukan di tempat mana kalian harus mati."

Tahun-tahun sekitar dibentuknya legiun tersebut, di Prancis terjadi perubahan kekuasaan. Charles X, raja terakhir Dinasti Bourbon, dijatuhkan karena dianggap tak becus. Sebagai penggantinya muncul Louis Philippe yang dianggap lebih trampil dan berpikir "modern". Warisan Charles X memang kalut. Dalam politik luar negerinya Prancis mengalami kesulitan terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara--Turki dan Aljazair. Untuk dua daerah inilah Legiun Asing dibentuk. Toh di Aljazair Louis Phillipe terpaksa meneruskan strategi Charles X menguasai daerah pantai (utara) negeri tersebut. Dan ini berakibat bersatunya beberapa suku di Aljazair bagian tengah untuk melawan--dan menumbuhkan bisul di tubuh Prancis. Berpuluh-puluh tahun negeri penjajah itu harus menahan serbuan dari jantung Aljazair--plus rasa permusuhan yang sangat dalam dari pihak pribumi.


Pertempuran dahsyat timbul dengan munculnya pemimpin pemberontak terkenal, Abdul Kadir--seorang Amir yang pada tahun 1832 memproklamasikan diri sebagai sultan lalu menentukan daerah kekuasaan. Akhir 1831, lima batalyon pertama Legiun Asing dikirim ke Aliazair menghadapi sultan itu. Dan lima batalyon ini bukan cuma menghadapi medan baru yang belum pernah mereka kenal. Bahkan pasukan yang dipersiapkan untuk bertempur terpaksa kerja rodi: membangun jalan dan benteng-benteng, di bawah sengatan matahari gurun dan deraan cemeti para komandan Prancisnya. Dalam waktu singkat, jumlah lima batalyon susut: anggota pasukan banyak yang tewas. Namun hasil karya mereka sangat bermanfaat bagi strategi pertahanan pasukan Prancis di negeri itu. Sebuah jalan utama antara Douera dan Boufarik misalnya diberi nama Chaussee de la Legion atau Jalan Legiun. Itu bukan kesialan satu-satunya. Sultan Abdul Kadir kemudian menyerbu. Dan resimen-resimen putih yang berpencaran di berbagai pos pertahanan gurun pasir itu terkurung di benteng mereka sendiri--dikelilingi ringkik kuda pasukan kavaleri Arab dari berbagai arah. Seperti tak habis-habisnya. Tak jarang, seperti dilukiskan dalam roman terkenal Beau Geste, seluruh anggota resimen Legiun Prancis dalam sebuah benteng tewas dilahap api. Perang Aljazair ini baru mereda tahun 1847. Sultan tertangkap waktu itu--dan diasingkan ke Prancis. Turki, juga tak ketinggalan menghidangkan perang buat Legiun Asing.

Melanjutkan perjanjian 1833, Prancis tercatat menyokong Muhammad Ali Pasha--gubernur Mesir di Turki-untuk menguasai Turki dan Suriah. Karenanya negeri Barat tersebut terikat untuk ikut mempertahankan Turki. Itulah sebabnya Prancis terlibat dalam konflik Rusia-Turki yang melahirkan Perang Krim, 1854-1856. Sejarahnya, Turki bersama pasukan Inggris dan Prancis--siapa lagi kalau bukan Legiun Asing--menyeberangi Laut Hitam menyerbu Sebastopol, pos pertahanan Rusia di Semenanjung Krim. Ini tercatat sebagai pertempuran berat. Pada penyerbuan pertama yang gagal, pasukan terserang wabah kolera. Pada penyerbuan kedua, pasukan Inggris runtuh--karena daya tahan yang rendah di hadapan medan bersalju tebal. Sisanya tinggal Legiun Asing Prancis--dan pasukan Turki di bawah Umar Pasha--yang melanjutkan serangan yang berjalan lambat karena terpaan badai salju. Lagi-lagi sial. Di tengah medan menggigil itu Prancis membatasi amunisi Legiun Asing yang sedang bertempur. Alasannya: khawatir akan serbuan Prusia dan Austria -- karena konflik Prancis-Prusia. Namun pasukan berani mati ini berhasil membendung Rusia keluar dari Sebastopol. Dan perang Prancis-Prusia akhirnya toh pecah juga--1870. Sebuah resimen mobil Legiun Asing, dikenal dengan nama Regiment de Marchetranger atau pasukan yang selalu dipindah-pindah, tercatat ikut mempertahankan negerinya. Itulah satu dari tiga saja kesempatan Legiun Asing berperang di daratan Prancis sendiri. Dua yang lain: Perang Dunia I dan II. Dalam Perang Dunia II, 13 Brigade Legiun Asing tercatat sebagai ujung tombak dalam pembebasan negeri itu dari cengkeraman Nazi Jerman. Mereka menjalani rute kemenangan dari Narfik, Bir-Hakiem sampai Italia.

Peperangan yang lain mereka jalani semuanya di luar Prancis: Dahomey, Sudan, Madagaskar, Tunisia, Meksiko dan beberapa tempat lagi. Dari peperangan-peperangan itu, legiun ini pernah mengalami penyusutan jumlah yang menakutkan: 42.000 anggota pasukan yang terbagi dalam empat kesatuan, dalam jangka waktu hanya 4 tahun menyusut menjadi hanya satu kesatuan. Tapi pasukan ini memang bagai setan merindukan neraka, 30 April 1863, di Cameron, Meksiko, sebuah brigade Legiun Asing--cuma terdiri dari 60 orang--berperang di bawah pimpinan Kapten Danjou melawan serbuan 3.000 prajurit bertopi lebar itu. Inilah perang puputan betul-betulan: dalam keadaan kehabisan peluru, Danjou bersama lima pengawalnya bertempur dengan bayonet sampai tewas. Dan sebagai imbalannya, jumlah 60 orang ini berhasil menewaskan ribuan orang pasukan Meksiko. Dari sisa-sisa pertempuran itu pula sebuah potongan tangan kayu Danjou diketemukan. Dikirimkan ke Prancis, dan kini disimpan di sebuah museum khusus Legiun Asing. Sesudah Perang Dunia II, tugas Legiun Asing berkurang. Perang mereka bahkan tak cukup dramatis untuk dikisahkan. Unta sudah diganti dengan panser dan jip. Serbuan pasukan berkuda, yang tiba-tiba saja datang berbondong, memencar dan menyerang, dengan gagah, juga sudah tiada. Gantinya muncul pertempuran modern jarak jauh. Satu di antara tugas yang sudah jarang, pasukan Legiun Asing Lintas Udara kemudian dikirim memadamkan pergolakan Aljazair yang menuntut kemerdekaan. Yang lain, adalah pertempuran di Shaba seperti sudah disebut.

Dan ketika Aljazair berhasil menggondol kemerdekaan, 1962, Legiun Asing seperti tutup buku. Markas besarnya di Sidi bel Abba yang legendaris dipindahkan ke Aubagne, daerah elite Marseille. Juga kekerasan para komandan dan pasukan mata gelapnya cuma tinggal cerita. Kendati disiplin kaku dan keberanian masih dikenal, wajah Legiun Asing kini lebih cocok dikategorikan sebagai pasukan yang trampil dan terlatih baik. Hampir tak beda dari pasukan khusus negara-negara lain. Tapi faktor orang asing sampai kini masih berlaku--tercatat 10.000 anggota pasukan terdiri dari 53 kebangsaam Hanya, yang berubah, latar belakang gelap atau kriminal dari para anggotanya nampak mulai ditinggalkan. "Yang sungguh-sungguh terlibat dalam peristiwa kriminal yang serius kami tolak," kata Jenderal Landry, Komandan Legiun, kepada wartawan Jeffrey Ubrich . Tes masuk juga dipermodern. Selain tes fisik dilakukan pula psikotes dan wawancara yang sangat terperinci. Yang diterima kemudian dididik di sebuah kamp di Castelnaudary, tak jauh dari Toulouse. Hampir tak ada yang istimewa - pendidikannya seperti sekolah militer biasa. Jauh dari bayangan kematian di masa lalu, kini pemerintah Prancis lantas memberikan masa pensiun bagi bekas anggota legiun ini. Dan sampai sekarang tercatat tak ada pensiunan yang tak mendapat kerja. Bagi mereka yang mengalami hambatan untuk kembali ke masyarakat, disediakan sebuah perkebunan anggur di Puyloubier--tak jauh dari Markas Besar Legiun. Kini perkebunan itu bisa menghasilkan 200.000 botol anggur tiap tahun. Tidak dijual--hanya untuk memenuhi kebutuhan anggota Legiun. Sampai-sampai tempat peristirahatan terakhir orang-orang nekat ini juga diperhatikan pemerintah. Di kaki Gunung Montc Sainte Victoire, dibangun sebuah taman makam pahlawan--khusus bagi anggota Legiun. Dan di kaki gunung yang jadi terkenal lewat lukisan Cezanne itulah, kisah fantastis Legiun Asing masih seperti bersambung. Sosok-sosok yang tak selalu jelas asal-usulnya, di dalam makam itu, seolah berbisik: "Akhirnya kutemukan juga sebuah tanah air”

Dicuplik dari: Majalah Tempo Interaktif

******
Suka Artikel/Postingan ini? Klik Sponsor dibawah untuk mendukung eksistensi Blog

No comments: