Follow us on:

MANFAAT TIDUR SIANG (Cukup 30 Menit)

Di sela aktivitas yang melelahkan, tak ada yang lebih efektif mengembalikan energi selain tidur siang. Meski sebentar, tidur siang mampu memperbaiki performa dan serta mengembalikan konsentrasi. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi saat kita terlelap?


Rasa mengantuk di siang hari sebenarnya dipicu oleh zat kimia penyebab kantuk yang disebut adenosin, yang dibentuk dalam tubuh sepanjang hari. Jika pada malam sebelumnya kita kurang tidur, kadar adenosine yang tinggi bisa menyebabkan kita menjadi kelelahan dan mengantuk di siang hari.

Seperti halnya tidur di malam hari, saat tidur siang juga terjadi perbaikan sel-sel tubuh. Namun, kebanyakan tidur siang tidak mencapai fase tidur yang dalam, kecuali Anda sedang merasa sangat kelelahan bisa saja Anda mengalami fase REM (rapid eye movement) atau fase kita bermimpi, di siang hari.

Akan tetapi fase REM yang terlalu cepat bisa menyebabkan kita terbangun dengan perasaan pening karena sebelum memasuki fase REM sebenarnya kita perlu tidur dalam waktu yang cukup panjang.

Lantas, proses apa saja yang terjadi dalam tubuh ketika kita tidur siang?

5 menit pertama:

Otak menjadi tidak sadar, tetapi indera kita masih aktif. Karena itu suara yang keras atau tepukan di kulit akan langsung membuat kita terbangun. Kemudian setelah tekanan darah dan detak jantung menurun, mata kita akan tampak berhenti bergerak di pelupuk mata sepanjang waktu tidur.

20 menit kemudian:

Akumulasi hormon adenosin di dalam tubuh dipecah. Pada saat yang sama, kelenjar adrenalin menyiapkan hormon kortisol yang akan membuat kita lebih fokus dan waspada saat terjaga. Sementara itu sistem imun yang mulai melemah karena tubuh kelelahan memperbaharui dirinya kembali normal.

5 menit terakhir:

Suara alarm yang dipasang akan membuat otak melepaskan sejumlah zat kimia yang mematikan pusat tidur di otak. Sel-sel otak yang sudah beristirahat tersebut kini menjadi lebih aktif dan siaga. Seiring dengan berkurangnya hormon adenosin, tubuh pun terasa lebih segar.

Source: Serambi News 2011