Showing posts sorted by relevance for query vietnam. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query vietnam. Sort by date Show all posts

August 17, 2012

SERANGAN UMUM TAHUN BARU IMLEK YANG HEROIK & HISTORIK


(Satuan Marinir AS bertahan mati-matian menghadapi serangan gagah berani dari Vietcong dan Tentara Vietnam Utara/NVA di kota tua Huey dalam SERANGAN UMUM TET VIETNAM-1968)

Setiap kali TAHUN BARU IMLEK (GONG XI FA CAI), Dunia terutama rakyat Amerika Serikat akan teringat kembali kepada Offensif Tet (Tahun Baru Imlek di Vietnam) tahun 1968 yang dilancarkan tentara Vietnam dengan kebangkitan rakyat Vietnam Selatan Komentar surat kabar AS atas serangan itu antara lain : The bold, massive Vietnam attacks yesterday on Saigon, eight provincial capitals and 30 or 40 lesser towns were a shocker. Jiwa dan semangat nasional rakyat Viet Nam yang diwadahi gerilyawan Viet Cong (VC/Charlie), membuka mata dunia internasional.. bahwa harga diri suatu bangsa tidak dapat dibunuh hanya dengan persenjataan mutakhir dan materi tak terbatas!!!
Serangan ke Saigon bahkan berhasil menduduki kedutaan besar AS dan baru setelah pertempuran selama 6 jam penyerang dapat dipukul mundur.

Offensif Tet dapat dianggap sebagai permulaan runtuhnya intervensi AS di Vietnam yang telah dimulainya sejak tahun 1950-an. Ketika Perancis pada tahun 1945 datang di Vietnam untuk menjajah kembali dan meniadakan kemerdekaan bangsa Vietnam yang diproklamasikan oleh Ho Chi Minh di Hanoi pada 2 September 1945, AS sudah mulai membantu Perancis. Apalagi setelah Perancis makin tidak mampu mengalahkan perlawanan rakyat dan tentara Vietnam, dan sebaliknya malah dikalahkan secara menentukan dalam pertempuran Dien Bien Phu pada tahun 1954, AS makin keras sikapnya. Perundingan Jenewa tahun 1954 memutuskan adanya Republik Demokrasi Vietnam (RDV) di Vietnam sebelah utara garis parallel 17 dan negara Vietnam Selatan ciptaan Perancis di bawah pimpinan Bao Dai di selatan garis parallel itu. Sedangkan Perancis selesai perannya secara resmi.

Melihat perkembangan itu AS makin langsung mempengaruhi Vietnam dengan memberi bantuan kepada Vietnam Selatan. Dipasangnya Ngo Dinh Diem menggantikan Bao Dai dan membentuk Republik Vietnam (RVN). Mula-mula peran AS secara militer terbatas pada bantuan dana, peralatan dan penasehat. Akan tetapi melihat ketidakmampuan tentara RVN menghadapi gerilya Vietcong, maka pada tahun 1965 AS secara besar-besaran masuk dengan kekuatan militer yang akhirnya mencapai 500.000 orang. Namun sekalipun masuk dengan kekuatan sebesar itu, disertai persenjataan canggih, termasuk pemboman Vietnam Utara dan daerah-daerah gerilya Vietnam Selatan dengan pesawat B-52, AS tidak mampu mengatasi kekuatan perlawanan tentara dan rakyat Vietnam. Ditambah lagi dengan kekejaman dan ketidakadilan pemerintah RVN, menjadikan makin banyak orang Vietnam Selatan mendukung NLF dan Vietcong, termasuk kaum cendekiawan di Saigon yang sebenarnya tidak suka kaum komunis.

Pada tahun 1967 pimpinan RDV di Hanoi melihat bahwa sudah saatnya perlawanan gerilya disertai serangan konvensional terbuka untuk memperoleh dampak politik lebih besar. Strategi Perang Rakyat selalu berusaha merebut dukungan rakyat, baik rakyat pihak sendiri untuk makin kuat melakukan perlawanan, tetapi juga rakyat pihak musuh untuk makin mengurangi usaha dan kekuatan militer musuh sampai titik paling rendah, sehingga dapat dihancurkan. Perlawanan gerilya yang efektif sudah menimbulkan kegusaran rakyat AS. Makin banyak rakyat AS mencela pengiriman pasukan militer ke Vietnam, sehingga juga mempengaruhi Kongres AS yang berkuasa. Sekarang dianggap perlu ada serangan konvensional terbuka untuk makin menyadarkan rakyat dan Kongres AS bahwa militer AS telah gagal di Vietnam, sehingga tidak ada gunanya intervensi diteruskan. Kalau Vietnam sanggup melakukan serangan besar-besaran, baik gerilya maupun terbuka, maka itu merupakan bukti nyata bahwa penugasan lebih dari 500.000 pasukan AS dan penggunaan lebih dari 8 juta bom udara tidak ada dampaknya sama sekali. Itulah dasar pikiran sehingga dilakukan Offensif Tet 1968.

Pada tanggal 30 Januari 1968 bergeraklah tentara dan rakyat Vietnam melaksanakan Offensif Tet yang akan tersohor sepanjang masa, tidak kalah dari pertempuran Dien Bien Phu. Serangan terjadi di mana-mana, menimbulkan banyak kekacauan pada pihak AS dan antek-anteknya. Apalagi serangan berhasil menduduki kedutaan besar AS di Saigon sehingga pengaruhnya terhadap pimpinan pemerintah AS dan rakyatnya amat dramatis.

Setelah pasukan AS dapat mengkonsolidasi kekuatan dan pasukan penyerang mundur, keluar pernyataan pimpinan militer AS bahwa telah dicapai kemenangan besar oleh tentara AS karena dapat menimbulkan korban banyak sekali pada penyerang Vietnam. Diserukan bahwa Offensif Tet gagal dan yang menang adalah pihak AS.

Akan tetapi itu menunjukkan pandangan strategi konvensional yang semata-mata menggunakan ukuran militer belaka dan tidak memahami hakikat Perang Rakyat. Memang pihak Vietnam harus berkorban banyak, tetapi hasilnya juga melimpah pada bidang politik yang bersifat menentukan jalannya perang selanjutnya.

Di AS makin kuat pendapat bahwa sudah waktunya meninggalkan Vietnam karena lebih banyak rugi dari untungnya. Reputasi AS di dunia amat turun karena dianggap tidak mampu mengatasi bangsa kecil yang kurang maju. Belum lagi para orang tua AS tidak rela melihat puteranya mati atau cacad untuk usaha yang bukan kepentingan rakyat AS. (Ini semua nanti mengarah kepada pelaksanaan perundingan di Paris antara AS yang diwakili Henry Kissinger dan Vietnam diwakili Le Duc Tho)


Di Vietnam Selatan rakyat makin yakin bahwa akan menang dan mereka yang tadinya maju-mundur sikapnya terhadap perjuangan bangsanya, makin positif sikapnya memihak perjuangan. Makin banyak kaum cendekiawan Saigon bergabung dengan PRG atau Pemerintah Revolusioner Sementara di luar kota. AS dan RVN makin terisolasi dan semangat serta moril tentara RVN makin habis. Tidak sedikit mereka yang titip nyawa dengan mengirimkan senjata, mesiu dan peralatan ke gunung.

Maka masa setelah Offensif Tet 1968 adalah masa menurunnya dan kemudian habisnya peran AS. Pada perundingan di Paris akhirnya disetujui untuk penghentian perlawanan dan keluarnya tentara AS dari Vietnam, tanpa keharusan bagi tentara RDV untuk pulang ke Vietnam Utara. Ketika pada tahun 1973 tentara AS meninggalkan Vietnam, RVN ditinggalkan sendiri dengan janji akan terus ada bantuan udara dan perlengkapan. Akan tetapi kondisi masyarakat AS dan suasana Kongres AS tidak mungkin mendukung janji itu. Tidak mengherankan bahwa dalam 2 tahun kemudian seluruh sisa kekuasaan AS habis disapu rakyat Vietnam yang mau merdeka. Maka pada 30 April 1975 serangan tentara Vietnam di bawah pimpinan jenderal Van Tien Dung bergerak masuk Saigon dan pemerintah RVN bertekuk lutut tanpa syarat. Berakhirlah intervensi AS yang telah menimbulkan begitu banyak penderitaan rakyat Vietnam dan rakyatnya sendiri.

("Oleh-oleh" dari 'LIK IWAN, cah Kota Gede 55172)

*******
Suka Artikel/Postingan ini? Klik Sponsor dibawah untuk mendukung eksistensi Blog

February 23, 2011

PERANG VIETNAM (Babak-2: Melawan Amerika)



Pada tahun 1961, presiden AS yang baru dipilih, Kennedy, mengirimkan 100 penasihat militernya yang pertama bersama dengan satu unit khusus dengan 400 tentara ke Vietnam. Pada tahun berikutnya, AS menambah jumlah pasukannya di Vietnam menjadi 11.000 tentara


Pada tanggal 2 Agustus 1964, dua kapal pesiar Amerika di tembaki oleh kapal-kapal patroli Vietnam Utara di Teluk Tonkin. Amerika bersikeras bahwa kapal-kapal pesiar itu berada di perairan internasional. Dan menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk membom Vietnam Utara untuk pertama kalinya. Hanya saja pada tahun 1971, diketahui bahwa dua kapal perang Amerika telah melanggar daerah perairan Vietnam Utara.

Pada bulan Maret 1965, pesawat tempur AS memulai Operation Rolling Thunder, pemboman besar-besaran terhadap Vietnam Utara. Sekitar tiga setengah tahun kemudian, bom-bom dijatuhkan di sekitar Vietnam Utara yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari jumlah bom yang dijatuhkan pada Perang Dunia II.


Untuk mengurangi pembangunan industri dan penduduk negara, Vietnam Utara memberlakukan desentralisasi total ekonomi dan evakuasi sejumlah orang dari kota-kota.

Puncak Perang Vietnam pada tahun 1968, yaitu saat AS mengirimkan hampir setengah juta tentaranya ke Vietnam. Pasukan Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Filipina dan Thailand semuanya berjumlah 90.000 orang. Dan saat itu tentara Vietnam Selatan berjumlah 1,5 juta orang.

Front Pembebasan Nasional di bawah kepemimpinan komunis, (yang diberi nama Viet cong oleh AS), memiliki kekuatan 400.000 pasukan.


Pada tanggal 1 Februari 1968, kekuatan Tentara Pembebasan Nasional/Viet Cong memulai serangan umum Tet (Imlek) ke 105 kota-kota di Vietnam Selatan. Walaupun Vietkong berhasil dipukul mundur dan mengalami kekalahan (kecuali di kota tua Hué), serangan Tet ini merupakan saat yang menentukan dalam Perang Vietnam.

Serangan Tet mengakibatkan perubahan sikap AS. Setelah serangan Tet, pemerintahan AS tidak tertarik lagi ingin memenangkan perang. Tapi mereka hanya tidak ingin kehilangan reputasinya sebagai kekuatan militer terhebat.

Melalui operasi militer AS, angkatan udara AS melakukan pengeboman ke wilayah Vietnam Utara, dan berakhir pada Oktober 1968. AS mulai menarik kembali pasukan-pasukannya dari Vietnam.


Tahun 1969 di Paris, AS, Vietnam Selatan, Vietnam Utara dan Vietkong melakukan negosiasi untuk menarik seluruh pasukan AS dari Vietnam.
Pada tahun 1972, sebelum negosiasi Paris membawa hasil, AS telah mengurangi pasukannya sebesar 100.000 orang dari Vietnam.

Tanggal 30 Maret 1972, terjadi serangan komunis, tapi bukan oleh Vietkong melainkan oleh pasukan Vietnam Utara yang melewati garis demarkasi (17 derajat garis lintang utara) melanggar wilayah Vietnam Selatan. Pengeboman yang dilakukan secara terus-menerus oleh pesawat tempur AS, telah menyebabkan mundurnya pasukan Vietnam Utara.


Pada tanggal 27 Januari 1973, persetujuan gencatan senjata ditandatangani di Paris dan mulai diberlakukan sejak hari itu.

Pada bulan Maret 1973, pasukan terakhir Amerika, meninggalkan Vietnam (ditandai dengan tewasnya dua marinir AS penjaga kedutaan). Dua tahun kemudian, Vietnam Utara dan kekuatan komunis Selatan memulai serangan dengan maksud untuk menguasai negara Vietnam Selatan. Beberapa minggu kemudian, tepatnya tanggal 30 April 1975, pasukan Vietnam Utara menduduki Saigon dan mengakibatkan berakhirnya perang yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun.



Sumber artikel:http://yudhim.blogspot.com/2008/01/
Sumber Gambar diambil dari search engine Google .

 .
Suka Artikel/Postingan ini? Klik Sponsor dibawah untuk mendukung eksistensi Blog

January 31, 2012

PERANG VIETNAM (SEJARAH PERANG BERLARUT YG MEMATIKAN)


Sejarah mencatat, perang Vietnam berlangsung mulai tahun 1959 hingga 30 April 1975. Selama itu telah jatuh korban tiga hingga empat juta rakyat Vietnam, satu setengah hingga dua juta rakyat Laos dan Kamboja serta 58.159 pasukan Amerika. Banyaknya nyawa yang hilang menunjukan bagaimana hebatnya perang tersebut.

KEHEBATAN perang Vietnam juga ditunjukran oleh beragam persenjataan yang digunakan kedua belah pihak. Dari persenjataan primitif hingga bom udara canggih digunakan untuk menjebak, membunuh dan mengalahkan musuh. “sangat tidak seimbang bila dilihat dari persenjataan antara Utara dan Selatan namun dari semangat justru faktor ini yang menentukan. Terbukti Amerika Serikat meninggalkan Vietnam dan tentara Utara dapat melenggang masuk ke Selatan.

Setidaknya Amerika “terpaksa” terlibat lebih dalam di Perang Vietnam ini, manakala kekuatan udara yang bermarkas di Jepang dilibatkan untuk bergerak maju dan menyerang sasaran di Utara. Diawali pengerahan kekuatan udara dan pangkalan di Okinawa, Jepang untuk bergerak maju ke Danang, Vietnam Selatan pada 31 Januari 1965, Amerika mulai melibatkan jet tempur jenis F-105. Pengerahan kekuatan udara dari Tactical Fighter Wing ke 18 ini menunjukan kekhawatiran Amerika dalam menghadapi Vietnam Utara yang bersemangat bergerak ke Selatan.


Operasi yang diawali jam tiga pagi dalam pengerahan kekuatan udara beserta logistiknya secara cepat ini sebagai awal operasi yang disandikan Operation Flaming Dart. Baru sejak saat itu Amerika terang-terangan melewati garis batas paralel Tujuh Belas yang selama ini ditabukan untuk dilewati. Keberanian Amerika melanggar garis ini merupakan keputusan strategis, daripada Utara mulai menyerang ke Selatan akan menambah repot pasukan Amerika yang bertahan.

Tidak tanggung tanggung, satu minggu setelah sampai di Danang sebanyak 47 pesawat F-105 mulai beraksi dengan menjatuhkan bom di Utara, kebijakan yang akhirnya mengobarkan perang darat berlanjut di Vietnam. Guna melindungi pangkalan udara di Selatan, Amerika perlu menambah kekuatan darat. Pada 8 Maret 1965, sebanyak 3.500 pasukan Marinir Amerika mendarat di Vietnam Selatan. Mulai saat itulah secara langsung Amerika terlibat perang darat yang berlarut di Vietnam.

Keterlibatan pasukan ini sangat didukung masyarakat Amerika dalam upaya memerangi komunis internasional. Slogan yang sama pernah dipakai Perancis dua dekade sebelumnya saat masih bercokol di Vietnam. Setidaknya semangat Amerika untuk melawan komunis di Vietnam mendapat angin segar termasuk pendanaannya dari Senat AS.

Tindakan Amerika ini mendapat reaksi pedas dari Utara. Pemimpin Utara, Ho Chi Minh, mengatakan secara resmi, “Bila perang ini akan berlangsung selama 20 tahun kita siap mengadapi, bila mau damai nanti sore kita sudah bisa minum teh bersama.” Makna sesungguhnya adalah bahwa Utara sanggup menghadapi tantangan Amerika baik dengan jalan perang ataupun jalan damai.

Vietnam sangat percaya diri karena perang ini akan berlangsung di wilayahnya, secara georgafis dan kultural terdukung oleh rakyat. Bagi Amerika perang darat di Vietnam akan memakan biaya tinggi selain medan yang tidak dikuasai secara penuh. Belum faktor masyarakat yang tidak dikenal serta perbedaan budaya yang menonjol. Pengerahan kekuatan udara yang besar dan mahal bukan solusi karena Utara sangat menghendaki perang darat yang berlarut, dan itu terjadi selama 10 tahun ke depan. Selama itu pula lebih 50.000 pasukan Amerika terbunuh di hutan Vietnam.

Bila ditelaah secara cermat, perang ini akibat dari perbedaan dua kubu antara Utara dan Selatan. Pihak Utara menghendaki agar tercipta penyatuan Vietnam dalam pemerintahan yang merdeka. Sedang Selatan menghendaki agar tercipta pemerintahan non komunis di Asia Tengara. Dari sinilah keberpihakkan Amerika dalam memerangi komunis dunia terlihat dengan melibatkan diri secara nyata dalam perang ini.



TIGA TAHAPAN PERANG

Untuk membuktikan keberpihakkan Amerika dalam memerangi komunis, ditunjukkan dengan pengiriman pasukan darat secara besar ke Vietnam. Dari awal 3.500 pasukan marinir di bulan Maret 1965, pada akhir tahun kekuatan ini telah mencapai 200.000 marinir. Yang tadinya pasukan ini dirancang hanya untuk mempertahankan pangkalan udara dan bersifat defensive akhirnya terpaksa” masuk ke Utara dan offensive.

Mei 1966 pasukan darat pemerintah Selatan Army of the Republic of Viet Nam -ARVN) mengalami kekalahan besar dalam perang di Binh Gia. Kekalahan berikut terjadi pula di Dong Xoai pada Juni tahun yang sama. Pasukan Amerika yang berpihak ke Selatan sangat gusar akan kekalahan di kedua fron ini. Konsep membela Selatan harus dilakukan dengan nyata. “Pasukan Amerika yang mempunyai mobilitas, energi dan daya gempur harus dimanfaatkan secara nyata,” pinta Jenderal William Westmoreland kepada atasannya, Admiral Grant Sharp (Commander of U.S Pacific Force) ang berkedudukan di Hawai.

Izin khusus untuk inisiatif perang di Vietnam harus mendapat political will dari pusat. Dalam konsepnya Jenderal Westmoreland akan melakukan perang dalam skala besar terbagi tiga tahap yaitu:

Tahap 1, komitmen Amerika dengan negara pendukungnya untuk menetralisir kekuatan lawan hingga akhir tahun 1965.

Tahap 2, Amerika dengan negara pendukungnya berinisiatif mengurangi aksi gerilyawan dan memisahkan kekuatan lawan dan penduduk.

Tahap 3, bila musuh sulit dikalahkan setelah operasi berlangsung selama satu hingga setengah tahun, sisa kekuatan musuh yang terpisah dihancurkan dengan kekuatan penuh.

Tahapan perang di Vietnam yang diajukan sangat didukung Presiden Johnson sembari memberi penekanan agar pemerintahan Vietnam Selatan dapat terselamatkan dan serangan para gerilya apapun caranya. Westmorland bahkan memperkirakan perang di Vietnam akan berakhir tahun 1967 dengan kemenangan di pihak Amerika.

Nyatanya tidak, bahkan perang berlarut makin menjadi yang menyeret Amerika lebih jauh di Vietnam Dalam kajian yang dilakukan oleh Letkol (ret) Dave Grosman dan Killology Research Group (1995) dalam bukunya On Killing: The Psychological Cost of Learning to Kill in War and Society ditengarai kegagalan akibat dua hal pokok.
Pertama tentang umur pasukan yang relatif masih muda dan yang kedua masalah keterlibatan pasukan dalam mengonsumsi obat biUs.

Rata-rata umur pasukan yang diterjunkan di Vietnam berumur 22 tahun setelah mengikuti pendidikan dasar kemiliteran selama satu tahun. Bandingkan dengan umur pasukan yang terlibat PD II dan Perang Korea, mereka rata-rata berumur 26 tahun dengan rotasi penugasan setiap tahun. Dari data yang tewas di Vietnam rata-rata mereka 22,8 tahun, sangat terlalu muda untuk tugas yang berat dan melawan pasukan berpengalaman.

Selain itu para pasukan muda ini terlibat dalam pemakaian obat biUs yang berlebihan. Memang mereka dilengkapi dengan obat bins guna mengurangi rasa sakit saat terkena peluru, tetapi banyak juga yang dikonsumsi guna mengurangi rasa tegang. Hal inilah yang menjadi persolan utama dan berakibat semangat tempur menurun drastis.

Idealnya pasukan ini dirotasi setiap tahun dengan masa tugas kemiliteran selama 10 tahun. Namun mereka mengatakan, “Kami bertugas sepuluh kali dalam setahun.” Idiom yang sangat menurunkan moral pasukan yang terlibat perang. Perang darat berlarut ini melibatkan sekutu Amerika masuk ke dalam kancah perang. Beberapa negara seperti Australia, Korea Selatan, Selandia Baru, Thailand dan Filipina mengirimkan pasukan. Bahkan Thailand mengizinkan beberapa pangkalan udaranya dipakai sebagai operational base.

Bukan hanya negara yang tergabung dalam SEATO (South East Asian Treaty Organization) yang melibatkan diri. Beberapa negara anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization) juga melibatkan diri. Inggris dan Kanada bahkan terlibat aktif dalam operasi di Vietnam diantaranya dalam operasi Masher, Attleboro, Cedar Falls dan Jungtion City. Dari berbagai operasi darat inilah gerak maju pasukan sekutu menjadi nyata, stabilitas pemerintahan Selatan menjadi terdukung.

Inilah propaganda yang mencuat keluar, Amerika mengalami kemenangan dan pemerintah Selatan menjadi bertambah baik. Pemberitaan yang sangat dikontrol oleh Pentagon ini toh bocor juga, berbagai kekalahan di medan perang terkuak. Alhasil, rakyat Amerika mulai melancarkan demostrasi dan menanyakan kapan berakhirnya perang ini.

Akhir 1967 terjadi demonstrasi antiperang di depan Pentagon. Ratusan pendemo mulai protes dan meneriakan slogan “Ho, Ho, Ho Chi Minh! Sang pemenang,” dan juga slogan “Hey, hey LBJ ! Berapa pemuda mati hari ini?” LBJ merupakan kependekan dari Lyndon Bines Johnson sang presiden Amerika kala itu.****


Sumber artikel: BLOG SEJARAH PERANG DUNIA
Sumber gambar: Sean321

Postingan Lain tentang PERANG VIETNAM:

SERANGAN UMUM TAHUN BARU IMLEK 1968

DIEN BIEN PHU FALL

HAMBURGER HILL

PERTEMPURAN DI ANGKASA VIETNAM

PERANG VIETNAM BABAK-I (MELAWAN PERANCIS)

PERANG VIETNAM BABAK-II (MELAWAN AMERIKA)

February 23, 2011

PERANG VIETNAM (Babak-1: Melawan Perancis)

Pasukan Sekutu dibawah pimpinan Inggris yang didaratkan di Indochina untuk melucuti pasukan Jepang, juga diboncengi pasukan Perancis. Bahkan Inggris membantu Perancis berkuasa lagi di berbagai wilayah Indochina. Suatu keadaan yang mirip terjadi di Indonesia kala itu. Posisi Vietnam yang baru saja menyatakan kemerdekaannya pada 02 September 1945 masih belum kuat. Sehingga Vietnam tidak mampu menahan tekanan Perancis. Vietnam dibawah pimpinan Ho Chi Minh terpaksa membolehkan pasukan Perancis masuk ke Vietnam bagian utara guna menggantikan tentara China nasionalis yang juga ditugaskan melucuti Jepang. Dari sinilah niat Perancis untuk menguasai kembali Vietnam dan wilayah Indochina lainnya semakin jelas kelihatan.


Melihat maksud Perancis tersebut, Ho Chi Minh yang posisinya belum kuat memilih cara perundingan untuk merelakan ancaman terhadap kemerdekaan yang baru diproklamasikannya. Namun jurang perbedaan mereka tak terjembatani dengan perundingan, sehingga September 1946 tercapailah ‘kesepakatan untuk tidak sepakat’. Dengan posisi ini, maka Ho menyimpulkan bahwa satu-satunya cara mempertahankan kemerdekaan clan kedaulatan Vietnam hanyalah lewat senjata. Situasi ini muncul tatkala dalam bulan November 1946 pecah insiden di kota pelabuhan Haiphong antara pasukan Perancis dengan Viet Minh.

Perancis memanfaatkan momentum ini untuk mengenyahkan Ho Chi Minh. Tentara Perancis segera menguasai ibukota Hanoi dan Ho bersama pasukannya mundur ke pedalaman. Pada 19 Desember Jenderal Vo Nguyen Giap mengumumkan perang perlawanan nasional yang melibatkan seluruh rakyat Vietnam. Untuk memperlemah pelawanan tersebut, Perancis melakukan politik divide et impera, termasuk membenuk pemerintahan boneka yang dipegang oleh Raja Bao Dai. Perancis juga meniupkan bahwa perang ini bukanlah sekadar peperangan kolonial, melainkan sudah merupakan bagian dari Perang Dingin melawan ekspansi komunisme. Sehingga AS pun mulai termakan dengan apa yang ditiuptiupkan Perancis itu.

Dalam perang kolonial ini, Perancis memiliki 100.000 pasukan terlatih dengan persenjataan lengkap, termasuk kekuatan udara dan laut termasuk Legiun Asing dan pasukan para yang tersohor, dipimpin oleh Jenderal Jean de Lattre de Tassigny. Sedangkan Viet Minh yang dibantu rakyat terdiri dari sekitar 150.000 orang dengan persenjataan terbatas, namun mulai memperoleh bantuan dari China. Mirip dengan perang kemerdekaan di Indonesia, maka para pejuang Vietnam lebih menguasai wilayah pedesaan atau pedalaman, Sedangkan tentara Perancis menguasai daerah perkotaan. Saling serang terjadi, namun tidak banyak mengubah keadaan.



20 November 1953, kekuatan kolonial Perancis menempatkan sebanyak 16.000 pasukannya di Bien Phu, yaitu sebuah lembah pegunungan di sepanjang perbatasan Vietnam Utara dan Laos Utara. Dari Dien Bien Phu, Perancis bermaksud untuk mengawasi daerah perbatasan di antara kedua negara. Hal ini dianggap perlu karena Viet Minh melakukan pergerakan pasukan dilengkapi dengan persenjataan di Laos, Pathet Lao.

Militer Perancis percaya bahwa Lembah Dien Bien Phu yang memiliki panjang 19 kilometer dan lebar 13 kilometer, aman dari serangan Viet Minh. Namun pada minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya, pasukan Vietnam dibawah pimpinan Jenderal Giap, menyiapkan penyerangan ke Dien Bien Phu. Dengan bantuan lebih dari 200.000 orang kuli pengangkut barang, Viet Minh mengatur pengangkutan artileri berat ke gunung-gunung yang mengelilingi lembah Dien Bien Phu.



Pada bulan Maret 1954, pasukan Viet Minh pimpinan Jendral Giap memulai penyerangan mereka terhadap pasukan Perancis di Dien Bien Phu. Pada tanggal 7 Mei 1954, mereka berhasil menaklukan pusat komando Perancis. 9.500 pasukan Perancis ditawan, termasuk anggota pasukan elite para perancis. Ini merupakan kekalahan paling buruk dalam sejarah Militer Perancis.

Lebih dari 20.000 orang Viet Minh dan lebih dari 3.000 orang Perancis terbunuh dalam pertempuran di Dien Bien Phu. Perang antara Viet Minh dengan Perancis yang berlangsung selama sembilan tahun, telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Lebih dari satu juta warga sipil, 200.000 hingga 300.000 orang Viet Minh dan lebih dari 95.000 anggota pasukan kolonial Perancis telah kehilangan nyawanya.

Pada tanggal 20 Juli 1954 di Jenewa, negosiator Viet Minh dan Perancis setuju membagi Vietnam menjadi dua negara bagian : komunis Vietnam Utara dan kapitalis Vietnam Selatan.

Pada tahun 1959-1963, setelah gerilya komunis Vietnam Selatan dapat menjatuhkan pemerintahan Diem, pemerintahan komunis Vietnam Utara mengendalikan jalannya konfrontasi militer. Lebih dari 40.000 gerilya Vietnam Utara masuk ke wilayah selatan, dan memberikan persenjataan dan amunisi kepada komunis Vietnam Selatan, yang dibawa melalui jalan-jalan kecil Ho Chi Minh di wilayah Laos dan Kamboja.****


Sumber artikel-1:http://kazegatana.wordpress.com/2011/02/04/
Sumber artikel-2:http://yudhim.blogspot.com/2008/01/

July 24, 2013

HAMBURGER HILL VIETNAM WAR (Trilogi Divisi 101 Air Borne #02)

Hamburger Hill menjadi kontroversi karena pertempuran itu tidak menghasilkan apa-apa, selain korban di kalangan pasukan A.S, terutama Divisi 101st.
.
101st Airborne diaktifkan kembali sebagai unit pelatihan di Camp Breckinridge, Kentucky pada tahun 1948 dan 1950. Walaupun tidak ikut bertempur di Perang Korea, tetapi 11th Airborne Division yang dikirim ke Korea dipersiapkan di unit pelatihan ini. Baru pada tahun 1954, 101st Airborne Division diaktifkan kembali di Fort Jackson, South Carolina dan pada 1956 dipindahkan ke Fort Campbell, Kentucky untuk diorganisasikan ulang sebagai divisi tempur. Pada masa ini, divisi sempat dikirimkan untuk mengatasi suatu kerusuhan rasial di Little Rock tahun 1957.

Seorang Perwira dari 101st Airborne terluka dalam pertempuran di Hamburger Hill


101st Airborne diaktifkan kembali sebagai unit pelatihan di Camp Breckinridge, Kentucky pada tahun 1948 dan 1950. Walaupun tidak ikut bertempur di Perang Korea, tetapi 11th Airborne Division yang dikirim ke Korea dipersiapkan di unit pelatihan ini. Baru pada tahun 1954, 101st Airborne Division diaktifkan kembali di Fort Jackson, South Carolina dan pada 1956 dipindahkan ke Fort Campbell, Kentucky untuk diorganisasikan ulang sebagai divisi tempur. Pada masa ini divisi sempat dikirimkan untuk mengatasi kerusuhan rasial di Little Rock tahun 1957.

Tahun 1965, seiring dengan meningkatnya intensitas konflik di Vietnam, 101st Airborne Division dipersiapkan untuk dikirim ke Vietnam. Secara bertahap unsur-unsur dari divisi mulai diberangkatkan hingga pada tahun 1967 seluruh divisi sudah berada di Vietnam. 

Selama penugasan di Vietnam, divisi dlibatkan dalam sejumlah operasi militer skala besar dan terlibat langsung dalam beberapa pertempuran besar melawan Viet Cong (Milisi Komunis Vietnam Selatan) serta NVA (tentara reguler Vietnam Utara). Beberapa pertempuran itu antara lain Tet Offensive (Serangan Tahun Baru Tet/Imlek 1968), Hamburger Hill, dan Firebase Ripcord

Dua Personil 101th Airborne di lereng Bukit 937/Hamburger Hill


Pada Januari 1968, Vietnam Utara melancarkan serangan mendadak ke Vietnam Selatan yang dikenal sebagai Tet Offensive. Serangan bahkan mencapai Saigon, ibu kota Vietnam Selatan. Unsur pasukan dari 1st Battalion 502nd Airborne Infantry bertempur untuk melumpuhkan pasukan Vietkong (Milisi komunis Vietnam Selatan) dan tentara reguler Vietnam Utara (NVA) yang sempat menyerbu gedung kedutaan besar AS di Ibu kota Saigon. Sementara 501st Airborne Infantry ikut bertempur mati-matian bersama pasukan Marinir AS (USMC) untuk merebut kembali kota tua bersejarah, Hue.

HAMBURGER HILL ( BATTLE OF DONG AP BIA )

Salah satu pertempuran yang menandai keterlibatan 101st Airborne Division di Perang Vietnam adalah ”Battle of Dong Ap Bia” atau yang lebih dikenal sebagai “Hamburger Hill”. Pertempuran yang terjadi pada bulan Mei 1969 ini ketika pasukan Vietnam Utara dari Resimen ke 29 NVA  menguasai sebuah bukit di Pegunungan Ap Bia, yang dikenal sebagai “Bukit 937”. 



Mengetahui adanya pasukan Vietnam Utara tersebut, maka 101st Airborne mengirimkan pasukan dari 187th Infantry dan 506th Infantry. Total ada empat batalyon infantry dari 101st Airborne Division dan satu batalyon tentara Vietnam Selatan yang diturunkan untuk menghadapi dua batalyon dari 29th NVA Regiment. 

Pertempuran berlangsung sengit. Pertempuran juga diwarnai oleh friendly fire (tembak menembak antar kawan), ketika dua heli tempur Cobra malah menembaki pasukan dari 101st Airborne yang sedang merangkak mendaki ke puncak bukit, mengakibatkan dua orang tewas dan 35 lainnya luka-luka. 

Setelah 10 hari pertempuran, akhirnya pasukan AS yang didukung Pasukan Pemerintah Vietnam Selatan (ARVN) berhasil menguasai kembali bukit tersebut. sebanyak 56 tentara AS dan 5 tentara Vietnam Selatan tewas dalam pertempuran, sementara di pihak Vietnam Utara sebanyak 675 personil mereka tewas.

Hamburger Hill menjadi kontroversi karena pertempuran itu tidak menghasilkan apa-apa, selain korban di kalangan pasukan A.S, terutama Divisi 101st. Bukit 937 atau Hamburger Hil tidak memiliki arti strategis maupun taktis apapun, dan segera ditinggalkan oleh pasukan AS setelah direbut kembali dari Vietnam Utara. 

Padahal tidak kurang dari 500 ton bom dan 70 ton napalm dijatuhkan untuk merebut kembali bukit tersebut. Kerugian besar juga dialami 187th Infantry yang harus dibangun ulang setelah pertempuran. Pertempuran ini mendapat kecaman keras di dalam negeri AS sendiri. 

Hamburger Hill menjadi operasi search and destroy dalam skala besar terakhir yang dilancarkan pasukan AS dalam Perang Vietnam, setelah Hamburger Hill pasukan AS lebih sering bergerak dalam unit kecil dan mempercepat proses Vietnamisation.


Di pertempuran Hamburger Hill, personil 101st Air Borne didrpo dgn Heli bukan diterjunkan


FIREBASE RIPCORD BATTLE

Sementara itu pertempuran Firebase Ripcord menjadi pertempuran besar terakhir antara pasukan AS dan NVA Vietnam Utara dalam Perang Vietnam. Firebase Ripcord yang ditempati personel 3rd Brigade 101st Airborne dikepung oleh pasukan Vietnam Utara pada 1970. Pertempuran sengit berlangsung selama 23 hari pengepungan. Pasukan AS berhasil dievakuasi keluar pengepungan, walaupun dengan korban 61 orang tewas dan 345 luka-luka. Pada tahun 1971, divisi 101st mulai ditarik pulang ke AS dari Vietnam dan di bulan April 1972, seluruh divisi sudah berada kembali di Fort Campbell.


500 ton bom dan 70 ton napalm yang dijatuhkan membuat tandus bukit 937


REORGANISASI 101st AIRBORNE

Pada Juni 1968, 101st Airborne Division sempat diubah menjadi 101st Air Cavalry Division. Perubahan ini tak lepas dari konsep airmobile yang diterapkan di 101st. Namun pada Agustus 1968 nama “Airborne” kembali disematkan kepada 101st dengan alasan faktor sejarah. Divisi pun kembali berubah menjadi 101st Airborne Division (Airmobile). 

Setelah kembalinya divisi dari Perang Vietnam dan reorganisasi, pada sejak 1974, Divisi 101st Airborne ditetapkan sebagai divisi airmobile dan lebih menitikberatkan pada serbuan melalui helicopter. Sejak saat itu pula personel 101st Airbone tidak diwajibkan untuk memiliki wing terjun (Para/Airborne), dan 101st Airborne tidak lagi melakukan operasi tempur dengan penerjunan (berbeda dengan 82nd Airborne Division, yang masih diberi hak untuk melakukan operasi terjun tempur).


(Berbagai Sumber)

*********




TAG ONLY, NOT A PART FROM THIS POSTING
kereta api miniatur, kereta api model, miniatur keretaapi indonesia, miniatur lokomotif indonesia, jual miniatur kereta apiindonesia, jual kereta api model murah, jual lokomotif kereta api model murah,jual kereta api model di medan, train miniature, train model, analog trainmodel 1/87 ho scale, train miniature 1/87 ho scale, jual kereta api miniaturmodel,  jual kereta api model loko cc 20513, jual loko miniatur kereta api, jual loko 201 perumka murah, miniatur cc203,model loko cc203, jual kereta model lokomotif cc203 pt kai perumka pjka, jualstiker logo perumka, jual stiker logo pjka, film kereta api terakhir, novelkereta api terakhir pandir kelana, srintil ronggeng dukuh paruk, sentoloyogyakarta, stasiun sentolo, kecamatan sentolo kabupaten kulon progo daerahistimewa yogyakarta, jogjaicon, jogja icon 2014, miniatur stasiun kereta apiskala 1/87, jual diecast skala 1/87 murah, jual miniatur bus skala 1/87, jualminiatur truk wiking herpa siku skala 1/87 murah, miniatur gerbong berkarat,jual kereta api model loko agung craft seken, hobi kereta api model dan diorama,jual model kits murah, jual model kit military figure skala 1/35, minatur tuguyogyakarta, miniatur pasar bringharjo, miniatur tugu jogja, jual cat enameluntuk model kit, forum kereta api miniatur, johann sastro, johann sastro, carawheater miniatur diecast, jual tamiya model kit, military corner yogyakarta,sapto widodo ayu nuarida military corner owner, agustina woro anggraini, bandungarmy hobby, jual kalender kereta api indonesia, brigadir safrina biddokkespolda aceh lamteumen, prajurit kraton indonesia, polemik lapangan blang padangbanda aceh, menerima custom diecast, jual nokia n gage classic, jual nokia ngage qd, jual diorama skala 1/35 untuk mokit, tokopedia, bukalapak, tokobagus,sun go kong,  jual suzuki jimny di bandaaceh, jual mesin suzuki jimny, jual katana di banda aceh, jual anakan love birddi banda aceh, jual miniatur tank,  jualdiecast di yogyakarta, jual kereta api model di yogyakarta,  chrysna satya nugraha aa ykpn yogyakarta,intense aceh, gerai bu ida, widya eni rahmawati, black eagle shooting club,miniatur kereta api, miniatur kereta api indonesia, truk gandeng, balai yasa87, penguin train model shop, joedy penguin train model, kirangan city,kirangan paul abel abilukito magetan, patrick starr FKM admin, dian novitasarifkip matematika unsyiah, balai yasa jogja, balai yasa pengok yogyakarta,lokomotif 205, cara kerja wesel kereta api, jual bangunan skala 1/87,  diecast mobil tank skala 1/87, diecast mobilperang skala 1/32, jual miniatur tank sherman skala 1/32, dinosaurus di indonesia,jual diecast jeep willys skala 1/32, jual model kits tank sherman skala 1/35academy, analog control dalam kereta api model miniatur, diorama miniaturkereta api, inda khristin dethan, muhammad lindhu mataram, jual diecast dibanda aceh, komunitas diecast di aceh, freedownload mp3 lagu aceh terbaru, nazarudinse lhokseumawe diecaster aceh,  keretaapi ekonomi perumka, komunitas penggemar kereta api kelas 3 ekonomi perumka1995, ayam lepas simpang lima banda aceh, sd persit kartika 1 banda aceh, sma 1kupang, sma 12 yogyakarta, esther yapola smpk st. Theresia kupang, bus denganmesin tertua, peninggalan KNIL Belanda, Bus Sargede Yogyakarta, Taksi PoltakMedan Siantar, Lae Togar, miniatur lokomotif skala 1/87 ho,  tugu jogja, tugu yogyakarta, united ngayogyakarto,rejowinangun yogyakarta,  apa yangdimaksud skala 1/87 HO dan Hoe dalam dunia kereta api model, Preiser HO  10452 Passenger Train Crew- This is a new boxof Preiser HO #590-10452 US Railroad Personnel -- Transition-Era PassengerTrain Crew, HO Scale / Plastic figures, jual figur preiser murah, jual figurskala 1/87 murah, jual sepatu bot swat, batalyon infanteri 112, gundala puterapetir, buku murah, berburu babi hutan di calang, indiana jones fans clubindonesia, www.tokopedia.com/brimodaceh, www.bukalapak.com/brimodaceh, jual diecast murah, jual willysdiecast, pesan miniatur bangunan, sepeda hilang di banda aceh, air terjunpeukan biluy, stasiun bungkah aceh utara, miniatur stasiun padang tiji sigliskala 1/87, bapak soegito atmohoetomo, jual kereta api rail king modifikasi,forum dosen kewarganegaraan 2006 aceh, yusniar joni kapluk mando gapi eumpangbrueh

August 27, 2012

TEROWONGAN CHU-CI VIETNAM (The Legends of Vietcong "Tunnel Rats")

.

Lubang sedalam enam meter itu menjadi pintu masuk bagi sebuah jalinan terowongan bawah tanah. Udara yang pengap. Suasana yang mencekam karena tidak ada cahaya masuk dan tidak bisa berbalik badan karena terowongan itu begitu sempit dan sesak.

Tentara Amerika Serikat pada masa Perang Vietnam dulu menyebutnya terowongan tikus tanah (Tunnel rats), namun para veteran Vietkong (Milisi kemerdekaan Vietnam Selatan) sangat bangga dengan karya mereka itu. Jaringan terowongan di tengah hutan bambu itu menjadi rumah sekaligus tempat mereka menyusun strategi untuk mengusir penjajah Prancis dan Amerika selama perang 1946-1975.

Jaringan terowongan itu hanya memiliki tinggi sekitar 70 cm dan lebar sekitar 50 cm. Itu saja masih membuat pengunjung merasa sesak dan tidak leluasa bergerak. Jaringan ini memiliki tiga tingkat. Tingkat dua dan tiga semakin sempit dan dalam. Jaringan lubang dan terowongan bawah tanah itu berada di desa Cu Chi, yang terletak sekitar 70 km dari Ho Chi Minh City, (Dulu Saigon City). Pada 1979, jaringan terowongan bernama Ben Duoc itu telah menjadi situ bersejarah Vietnam dan telah disulap menjadi tempat wisata menarik di negara itu.



Hung Tran, seorang pemandu wisata di Ho Chi Minh, mengungkapkan bahwa terowongan Ben Duoc semasa perang adalah markas bagi gerilyawan milisi Vietnam Selatan (Vietkong/VC), yang bahu-membahu bersama pasukan Vietnam Utara (NVA) memerangi pasukan Vietnam Selatan dan Amerika Serikat (AS) semasa perang periode 1959 hingga 1975.

Yang mengesankan, jaringan terowongan itu sepanjang lebih dari 200 kilometer. Terowongan bawah tanah itu dibangun sejak 1946 dan terus diperpanjang selama Vietnam berperang dengan Prancis [1946-1954] dan dengan AS [1955-1975]. Pembangunan itu memakan waktu selama lebih dari 20 tahun.

Selama perang, jaringan bawah tanah itu berfungsi sebagai tempat persembunyian yang efektif bagi para Vietkong Vietcong dalam menghindari patroli dan bombardir tentara Amerika.
 
Sepanjang hari mereka bersembunyi di bawah tanah, dan biasanya baru bisa keluar malam hari saat pasukan Amerika berhenti patroli.

Pada malam hari, mereka keluar untuk mengambil logistik, mengambil persediaan air dari sungai, dan melancarkan serangan atau penyergapan terhadap pos pos tentara pemerintah Vietnam Selatan dan A.S. Untuk itulah, jaringan terowongan itu memiliki sejumlah rongga, yang digunakan untuk tempat beristirahat, ruang rapat, sekolah bahkan hingga rumah sakit.

Pasalnya, para Vietkong dan keluarga mereka harus tinggal di sana selama bertahun-tahun. Pilihannya saat itu hanya dua, pergi ke atas namun risiko ditangkap dan dibunuh tentara Amerika atau tetap tinggal di bawah tanah sambil membantu perjuangan rekan dan kerabat mereka.

Satu kisah yang menyayat adalah pengorbanan seorang ibu bermarga Le yang terpaksa membunuh seorang anaknya yang baru lahir demi menyelamatkan nasib banyak orang di lorong bawah tanah. Tidak diketahui persis kapan kisah ini terjadi, tetapi peristiwa itu berlangsung saat Vietnam berperang melawan Amerika.

Selain itu, para ”warga” penghuni terowongan juga terpaksa menggali terowongan baru yang lebih dalam untuk mencari sumber mata air. "Tindakan itu terpaksa mereka lakukan setelah Amerika merusak sungai Saigon dengan bom Napalm yang mencemari air," kata Hung.




Pada tahun 1965 sudah terdapat terowongan yang terhubung dengan panjang lebih dari 200 Km dan itu pun semakin berkembang , rutenya menjadi lebih komplex, sehingga tunel juga dilengkapi dengan berbagai macam sarana seperti kamar tidur, dapur , tempat perawatan/rumah sakit. Peralatan banyak didapatkan dari hasil rampasan perang yang diimprovisasi, seperti listrik dihasilkan dari mesin motor curian. Bidang kedokteran juga banyak mengalami improvisasi, dari bangkai pesawat disulap menjadi alat-alat bedah, sehingga dokter dapat melakukan transfusi darah.

Air dan makanan menjadi barang langka, tidak jarang para Vietkong ini harus tinggal berhari-hari lamanya di dalam tunel untuk menghindari pemboman yang dilakukan tentara Amerika. Selain kalajengking, semut , laba-laba ,nyamuk, penyakit malaria juga menambah susahnya kehidupan di dalam tanah.

Keberadaan terowongan tersebut akhirnya dicium Amerika dan mereka melancarkan operasi untuk menghancurkan tunel dengan mengirim pesawat B52 dan menjatuhkan sebanyak 30 ton bom di daerah Chu Chi. Pasukan darat juga dikirim untuk menemukan dan menghancurkan sarang Vietkong itu. Walaupun demikian Amerika tidak pernah bisa menghancurkan kekuatan dan kehebatan dari terowongan Chu chi. Perang Vietnam membuat frustasi tentara Amerika , banyaknya korban dan kerugian materi serta cemoohan dan tekanan dunia internasional akhirnya menyebabkan Pemerintah Amerika tahun 1975 menarik mundur tentaranya.

Dicuplik dan direvisi seperlunya dari sumber:http://nyamuklagi.multiply.com/photos/

******
Suka Artikel/Postingan ini? Klik Sponsor dibawah untuk mendukung eksistensi Blog
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...